Assalamu'alaikum...
Apa kabar sahabat, semoga iman senantiasa melekat di dalam dada, tersemat dalam hati sanubari.
Catatan kecil dari note akunku, semoga lebih berkah di sini.
Sahabat, tidak usah bersedih ketika sapaan kita tak terbalas, ketika ketulusanmu tak dianggap.
Tak usah risau ketika salam tak terjawab, tidak perlu gelisah ketika cintanya tak sebesar cintamu.
Sahabat, tak perlu merasa terhina di saat kita diremehkan, ketika diabaikan.
Tak perlu bermuram durja ketika persahabatanmu kandas di tengah jalan.
Ketahuilah sahabatku.. Betapun uang yang terkotori oleh lumpur, terlipat, terinjak-injak sampai tak berbentuk akan tetap sama nilainya. Harganya tidak berkurang pada hakekatnya.
Begitupun kita sahabat..
Meskipun kita dihina, dicaci-maki, karena prinsip kebenaran yang kita pegang, tidak akan mengurangi nilai kita. Tidak akan berkurang nilai kita di mata Allah hanya karena fisik yang tidak sempurna.
Hinaan, cercaan malah akan membuat kita lebih kuat dan menjadikan kita lebih memperbaiki diri dari hari ke hari hingga nilai kita bertambah di mata Allah.
Sahabat, ketahuilah. Penilaian Allah yang menjadi harapan, bukan penilaian manusia.
Tetaplah dalam keimanan yang kokoh karena imanlah yang membuat nilai kita semakin meningkat di sisi Allah.
Tetaplah menjadi cahaya yang mampu menerangi lingkungan sekitar.
Tetaplah menjadi pelita ditengah gelapnya dunia.
Tetaplah ditempat perjuanganmu sahabatku..
^^Terus MERANGKAI KATA untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu'alaikum..
Diposting juga ke :
Selasa, 17 Mei 2011
Senin, 09 Mei 2011
UNTUK SAUDARA FILLAH-KU
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apa kabar hari ini sahabat, semoga senantiasa semangat menjaga taat hingga iman kian meningkat.
Kutulis rangkaian kata untuk sahabat Saudara Fillah-ku di seberang sana, semoga ada hikmah tersembunyi di baliknya untuk kita semua..
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Untuk Saudara Fillah-ku
Adekku...
Aku belum lama mengenalmu
lewat dunia maya antum menyapaku
Antum bilang, salut dengan tulisanku
meski aku pun tidak tahu di bagian tulisan yang mana
hingga antum merasa begitu.
Adekku...
Terima kasih telah menyapaku
Mengulurkan tangan tanda persahabatan
Syukurku pada Rabb karena mengirimkanmu padaku
Adekku...
Maafkan aku
Apa yang terlihat diluar tak selalu mencerminkan apa yang di dalam Kebaikan yang menjelma itu hanya karena Allah masih berkenan menyelimutkan tabir-Nya.
Adekku...
Aku hanyalah manusia yang bersimbah dosa
Lebih sering lena akan gemerlapnya dunia
Aku tak sempurna sebagaimana Allah telah menciptaku dengan penuh cinta Namun, apalah kuasa kita
Ketika Sang Maha Sempurna telah berkehendak menentukan jalannya
Apapun bisa terjadi sesuai rencana-Nya
Adekku...
Allah-lah yang mengobarkan imanmu
hingga sampailah kobaran itu menghangatkan relung-relung hatiku
Bukan aku yang menarik hatimu
Tapi kelembutan hatimu lah yang menghantarkan kita bertemu dalam wadah bernama ukhuwah.
Kekuatan iman yang menjadi wasilah
dan dibalik itu semua ada Allah yg Maha Kuasa.
Adekku...
Apalah arti jarak memisah raga
Jika hati tetap tenang dalam ikatan
Ikatan yang berlandaskan kemurnian iman
Apalah arti jarak membentang antara Pekan-Papua jika ukhuwah telah tumbuh berbunga.
Adekku...
Sungguh, aku ingin segera bertemu
ingin sekali melepas rindu
tapi cukuplah hatiku dan hatimu tuk bertemu
Dalam setiap lirih doa yang terlantun
di setiap deretan kata yang terangkai
Semoga itu semua menjadi penghapus rindu yang menggebu hingga kelak Allah mewariskan surga-Nya untuk kita bertemu.
Adekku, akhina fillah..
Marilah kita bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan kita Dalam bingkai ukhuwah
Dia-lah yang menyatukan yang terpisah
Mengumpulkan yang terserak
Semua adalah ujian dan tarbiyah dari-Nya
Semoga dalam syukur meningkat ketaatan
Makin subur iman dan ketaqwaan.
Amiin yaa Rabbal 'alamiin..
Ternyata ada balasan rangkaian kata dari dia saudara fillah-ku
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Abang..
Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu
Tidak ada sesuatu apapun yang bisa aku berikan
Aku juga belum lama mengenalmu
Aku tidak tahu kenapa begitu "lancang" sok akrab denganmu
Jujur,tulisan-tulisanmu tak henti-hentinya ku baca
Dengan membaca tulisan itu aku merasa ada yg menasihatiku secara langsung yang begitu menyejukkan hati
Tak jarang aku pinjam kata-kata dalam tulisanmu untuk hanya sekedar menyapa dan sdikit bertaujih untuk temanku.
Bukan hanya aku saja yg salut sama tulisanmu’
Teman-temanku pun bilang, "bagus ya kata-katanya".
Mereka bilang begitu.
Abang…
Sekarang setelah kita akrab di dunia maya yang belum sempat bertemu,
Sangat bahagia sekali melebihkan diriku mendapatkan tulisanmu,
Aku merasa sdah memiliki abang sebagai saudara,
Berharap akan selalu mendapatkan kata-kata penyejuk hatiku,
dan Alhamdulillah sekarang memanglah suatu kenyataan..
Abang..
Aku takut, kita sekarang seperti sahabat yg sudah lama kenal
Aku khawatir suatu saat akan kehilangan sosok sepertimu.
Tak jarang aku pun seperti itu
awalnya sangat akrab,tetapi berujung pada sebuah pertikaian kecil atau hanya saling diam, setelah itu menjauh dan menghilang
Begitulah sifatku, mungkin egois memang
Padahal aku sadar, masing-masing kita juga punya kepentingan yg tak hanya memikirkan salah satu dari kita.
Aku sempat berdoa dan berkhayal seandainya kita dpertemukan-NYA
Aku tidak tahu mesti bertingkah seperti apa,
Mugkin karna sangat bahagianya.
Walaupun sampai sekarang rasa ingin bertemu itu tetap ada,
Tetapi itu tak mengapa,
Riau-Papua memang sangat jauh, tetapi abang sangat dekat di hati
Aku mrasa engkau itu lebih dekat dari pada saudaraku yg di sini
Semoga saja ukhuwah ini kekal sampai maut menjemput
Yah..! walaupun aku belum tahu apa arti bagaimana sebenarnya sahabat sejati itu.
Mungkin karna aku belum pernah mendapatkan dan merasakan hal itu
Abang…
Kau memang beda, selma ini,selama aku di lingkungan tarbiyah
Jarang orang yg mengatakan "ana ukhibbukum fillah"
Tapi abang...,tanpa aku mintapun dengan santai dan begitu cepatnya berkata "ana ukhibbukum fillah".
Walaupun kau belum tahu seperti apa aku ini
Yah, Aku pun hanya bisa membalas
ANA UKHIBBUKUM FILLAH
Afwan ya bang!!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabrakatuh.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Begitulah sahabat, semoga Allah senantiasa emrekatkan ukhuwah kita, ukhuwah yang terselimuti oleh hangat Cinta-Nya.
Amiin yaa Rabbal’alamiin..
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Apa kabar hari ini sahabat, semoga senantiasa semangat menjaga taat hingga iman kian meningkat.
Kutulis rangkaian kata untuk sahabat Saudara Fillah-ku di seberang sana, semoga ada hikmah tersembunyi di baliknya untuk kita semua..
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Untuk Saudara Fillah-ku
Adekku...
Aku belum lama mengenalmu
lewat dunia maya antum menyapaku
Antum bilang, salut dengan tulisanku
meski aku pun tidak tahu di bagian tulisan yang mana
hingga antum merasa begitu.
Adekku...
Terima kasih telah menyapaku
Mengulurkan tangan tanda persahabatan
Syukurku pada Rabb karena mengirimkanmu padaku
Adekku...
Maafkan aku
Apa yang terlihat diluar tak selalu mencerminkan apa yang di dalam Kebaikan yang menjelma itu hanya karena Allah masih berkenan menyelimutkan tabir-Nya.
Adekku...
Aku hanyalah manusia yang bersimbah dosa
Lebih sering lena akan gemerlapnya dunia
Aku tak sempurna sebagaimana Allah telah menciptaku dengan penuh cinta Namun, apalah kuasa kita
Ketika Sang Maha Sempurna telah berkehendak menentukan jalannya
Apapun bisa terjadi sesuai rencana-Nya
Adekku...
Allah-lah yang mengobarkan imanmu
hingga sampailah kobaran itu menghangatkan relung-relung hatiku
Bukan aku yang menarik hatimu
Tapi kelembutan hatimu lah yang menghantarkan kita bertemu dalam wadah bernama ukhuwah.
Kekuatan iman yang menjadi wasilah
dan dibalik itu semua ada Allah yg Maha Kuasa.
Adekku...
Apalah arti jarak memisah raga
Jika hati tetap tenang dalam ikatan
Ikatan yang berlandaskan kemurnian iman
Apalah arti jarak membentang antara Pekan-Papua jika ukhuwah telah tumbuh berbunga.
Adekku...
Sungguh, aku ingin segera bertemu
ingin sekali melepas rindu
tapi cukuplah hatiku dan hatimu tuk bertemu
Dalam setiap lirih doa yang terlantun
di setiap deretan kata yang terangkai
Semoga itu semua menjadi penghapus rindu yang menggebu hingga kelak Allah mewariskan surga-Nya untuk kita bertemu.
Adekku, akhina fillah..
Marilah kita bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan kita Dalam bingkai ukhuwah
Dia-lah yang menyatukan yang terpisah
Mengumpulkan yang terserak
Semua adalah ujian dan tarbiyah dari-Nya
Semoga dalam syukur meningkat ketaatan
Makin subur iman dan ketaqwaan.
Amiin yaa Rabbal 'alamiin..
Ternyata ada balasan rangkaian kata dari dia saudara fillah-ku
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Abang..
Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu
Tidak ada sesuatu apapun yang bisa aku berikan
Aku juga belum lama mengenalmu
Aku tidak tahu kenapa begitu "lancang" sok akrab denganmu
Jujur,tulisan-tulisanmu tak henti-hentinya ku baca
Dengan membaca tulisan itu aku merasa ada yg menasihatiku secara langsung yang begitu menyejukkan hati
Tak jarang aku pinjam kata-kata dalam tulisanmu untuk hanya sekedar menyapa dan sdikit bertaujih untuk temanku.
Bukan hanya aku saja yg salut sama tulisanmu’
Teman-temanku pun bilang, "bagus ya kata-katanya".
Mereka bilang begitu.
Abang…
Sekarang setelah kita akrab di dunia maya yang belum sempat bertemu,
Sangat bahagia sekali melebihkan diriku mendapatkan tulisanmu,
Aku merasa sdah memiliki abang sebagai saudara,
Berharap akan selalu mendapatkan kata-kata penyejuk hatiku,
dan Alhamdulillah sekarang memanglah suatu kenyataan..
Abang..
Aku takut, kita sekarang seperti sahabat yg sudah lama kenal
Aku khawatir suatu saat akan kehilangan sosok sepertimu.
Tak jarang aku pun seperti itu
awalnya sangat akrab,tetapi berujung pada sebuah pertikaian kecil atau hanya saling diam, setelah itu menjauh dan menghilang
Begitulah sifatku, mungkin egois memang
Padahal aku sadar, masing-masing kita juga punya kepentingan yg tak hanya memikirkan salah satu dari kita.
Aku sempat berdoa dan berkhayal seandainya kita dpertemukan-NYA
Aku tidak tahu mesti bertingkah seperti apa,
Mugkin karna sangat bahagianya.
Walaupun sampai sekarang rasa ingin bertemu itu tetap ada,
Tetapi itu tak mengapa,
Riau-Papua memang sangat jauh, tetapi abang sangat dekat di hati
Aku mrasa engkau itu lebih dekat dari pada saudaraku yg di sini
Semoga saja ukhuwah ini kekal sampai maut menjemput
Yah..! walaupun aku belum tahu apa arti bagaimana sebenarnya sahabat sejati itu.
Mungkin karna aku belum pernah mendapatkan dan merasakan hal itu
Abang…
Kau memang beda, selma ini,selama aku di lingkungan tarbiyah
Jarang orang yg mengatakan "ana ukhibbukum fillah"
Tapi abang...,tanpa aku mintapun dengan santai dan begitu cepatnya berkata "ana ukhibbukum fillah".
Walaupun kau belum tahu seperti apa aku ini
Yah, Aku pun hanya bisa membalas
ANA UKHIBBUKUM FILLAH
Afwan ya bang!!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabrakatuh.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Begitulah sahabat, semoga Allah senantiasa emrekatkan ukhuwah kita, ukhuwah yang terselimuti oleh hangat Cinta-Nya.
Amiin yaa Rabbal’alamiin..
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Jumat, 06 Mei 2011
Belajar Memahaminya
Belajar Memahaminya
Assalamu'alaikum...
Apa kabar sahabat, semoga tetap sehat wal 'afiat.
Catatan kecil dari akun ku yang satunya, semoga bermanfaat.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakannya. Dia tak pernah bercerita. Ketegaran menghalanginya untuk sekedar berbagi rasa dengan sahabatnya. Bukan dia tidak percaya, namun begitulah, pantang baginya untuk mengeluh, mengutarakan permasalahannya kalau tidak sangat terpaksa. Dia hanya tidak ingin membuat sahabatnya ikut repot memikirkan apa yang menjadi ganjalan di hatinya."
Begitulah sahabat...
Kadang kita merasa kesulitan untuk memahami orang-orang di dekat kita. Entah kenapa meski telah sekian lama bersama, namun tak jarang kita belum bisa menyelami hatinya, memahami perasaannya. Kita hanya sebatas mengenalnya. Hanya mengetahui keadaan lahiriyahnya. Namun begitu jangan khawatir sahabat, semua ada prosesnya.
Sahabat, tidak mudah memang membina suatu hubungan. Perlu adanya tahapan-tahapan yang harus dilalui.
Yang pertama yaitu ta'aruf atau perkenalan. Dalam tahap ini kita mencoba untuk mengenal seseorang, mulai dari nama, alamat dan sebagainya. Termasuk mengetahui keluarganya, pekerjaannya, apa yang disukai dan tidak disukai dan juga hal-hal lain yang perlu ketehui tanpa melampaui batas-batas syar'i.
Tahap yang kedua yaitu tafahum atau memahami.
Masing-masing orang perlu waktu yang berbeda dalam proses mengenal atau ta'ruf hingga muncul persaan bisa memahami satu sama lain. Ada beberapa orang yang memerlukan waktu lama untuk bisa memahami bagaimana sahabatnya. Untuk bis memahami sahabat kita tentunya diperlukan interaksi yang intens antar satu sama lain. Dari seringnya bertemu atau berkomunikasi, memperdalam pengenalannya, lama-kelamaan akan timbul rasa saling memahami.
Begitulah sahabat,.
Mungkin perlu waktu yang tidak sebentar bagiku untuk memahami sahabatku, masih harus bayak belajar untuk menganali apa yang menjadi kebiasaannya, apa yang disukai dan tidak disukainya. Dan selama proses itu tidak ada yang bisa kulakukan selain selalu berkhusnudhon kepadanya dan juga berbaik sangka kepada Allah, bahwa Dia akan memberikan yang terbaik untuk kami semua, Dia-lah yang menguasai hati manusia, dan Dia Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
Sekian dulu dariku sahabat, semoga Allah selalu memimpin langkahmu.
“Terus MERANGKAI KATA untuk menggapai ridha-Nya
Wassalamu'alaikum...
Assalamu'alaikum...
Apa kabar sahabat, semoga tetap sehat wal 'afiat.
Catatan kecil dari akun ku yang satunya, semoga bermanfaat.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakannya. Dia tak pernah bercerita. Ketegaran menghalanginya untuk sekedar berbagi rasa dengan sahabatnya. Bukan dia tidak percaya, namun begitulah, pantang baginya untuk mengeluh, mengutarakan permasalahannya kalau tidak sangat terpaksa. Dia hanya tidak ingin membuat sahabatnya ikut repot memikirkan apa yang menjadi ganjalan di hatinya."
Begitulah sahabat...
Kadang kita merasa kesulitan untuk memahami orang-orang di dekat kita. Entah kenapa meski telah sekian lama bersama, namun tak jarang kita belum bisa menyelami hatinya, memahami perasaannya. Kita hanya sebatas mengenalnya. Hanya mengetahui keadaan lahiriyahnya. Namun begitu jangan khawatir sahabat, semua ada prosesnya.
Sahabat, tidak mudah memang membina suatu hubungan. Perlu adanya tahapan-tahapan yang harus dilalui.
Yang pertama yaitu ta'aruf atau perkenalan. Dalam tahap ini kita mencoba untuk mengenal seseorang, mulai dari nama, alamat dan sebagainya. Termasuk mengetahui keluarganya, pekerjaannya, apa yang disukai dan tidak disukai dan juga hal-hal lain yang perlu ketehui tanpa melampaui batas-batas syar'i.
Tahap yang kedua yaitu tafahum atau memahami.
Masing-masing orang perlu waktu yang berbeda dalam proses mengenal atau ta'ruf hingga muncul persaan bisa memahami satu sama lain. Ada beberapa orang yang memerlukan waktu lama untuk bisa memahami bagaimana sahabatnya. Untuk bis memahami sahabat kita tentunya diperlukan interaksi yang intens antar satu sama lain. Dari seringnya bertemu atau berkomunikasi, memperdalam pengenalannya, lama-kelamaan akan timbul rasa saling memahami.
Begitulah sahabat,.
Mungkin perlu waktu yang tidak sebentar bagiku untuk memahami sahabatku, masih harus bayak belajar untuk menganali apa yang menjadi kebiasaannya, apa yang disukai dan tidak disukainya. Dan selama proses itu tidak ada yang bisa kulakukan selain selalu berkhusnudhon kepadanya dan juga berbaik sangka kepada Allah, bahwa Dia akan memberikan yang terbaik untuk kami semua, Dia-lah yang menguasai hati manusia, dan Dia Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
Sekian dulu dariku sahabat, semoga Allah selalu memimpin langkahmu.
“Terus MERANGKAI KATA untuk menggapai ridha-Nya
Wassalamu'alaikum...
Minggu, 01 Mei 2011
JADILAH SAHABAT TERBAIK
“Ya Allah, ampuni hamba jika tidak bisa berlaku adil terhadap sahabat-sahabat hamba,
Ampuni hamba jika ada yang merasa terabaikandan tak terpedulikan.
Ampuni jika tak banyak waktu yang bisa kuberikan,
Jadikanlah keredhaan-Mu sebagai penguat ikatan.
Amiin yaa Rabbal ‘alamiin.
*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Assalamu’alaikum…
Sahabat MK, tentunya di dalam kehidupan kita yang amat singkat ini banyak hal yang kita alami. Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, pasti kita memerlukan teman, sahabat, keluarga maupun orang lain untuk membantu kita. Dari sinilah akan tercipta hubungan pertemanan atau persahabatan yang erat. Bagi mereka yang supel dan mudah bergaul tentunya akan banyak memiliki teman bahkan sahabat.
Dalam perjalanannya persahabatan yang erat akan menumbuhkan rasa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Bermula dari saling mengenal diri, memahami maka akan tumbuh rasa saling menyayangi dan mencintai. Seiring berjalannya waktu suatu hubungan persahabatan suatu ketika akan mengalami cobaan-cobaan, seperti misalnya ketika kita lebih condong kepada salah seorang sahabat terdekat, lebih banyak waktu yang kita habiskan bersamanya. Kedekatan yang semakin lama makin erat ini bisa menimbulkan adanya kecemburuan bagi sahabat yang lain. Kalau hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan renggangnya ukhuwah yang ada. Ukhuwah yang diharapkan membawa berkah malah berubah menjadi wahana prasangka. Kalau sudah begitu, rasanya pertemuan tak lagi menyejukan jiwa, nasehat tak lagi mampu membuat ukhuwah merekat karena hati telah terhalang oleh sakwa sangka.
Sebenarnya kecemburuan itu bisa dihindari atau dicegah jika diantara kita ada sikap saling mengerti dan memahami bahwa dalam persahabatan atau ukhuwah, kita harus memperlakukan sahabat kita dengan adil sesuai porsi dan posisinya. Namun di sisi lain kita juga harus paham bahwa kita tidak bisa memilih dengan siapa hati ini akan condong, ke sahabat mana hati ini terpaut lebih erat, karena di sini murni kuasa Ilahi. Allah-lah yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati.
Maka dari itu sahabat, dari pada kita larut dalam kecemburuan yang tidak membawa manfaat dan tidak sehat, alangkah baiknya kita berlomba-lomba untuk menjadi teman sejati bagi teman-teman kita dan berusaha menjadi sahabat yang terbaik bagi sahabat-sahabat kita, membina ukhuwah terindah bagi saudara-saudara kita. Semoga kelak Allah mengumpulkan kita ke dalam surga-Nya.
Amiin yaa Rabbal’alamiin..
“Terus MERANGKAI KATA untuk menggapai ridha-Nya.”
Wassalamu’alaikum…..
Ampuni hamba jika ada yang merasa terabaikandan tak terpedulikan.
Ampuni jika tak banyak waktu yang bisa kuberikan,
Jadikanlah keredhaan-Mu sebagai penguat ikatan.
Amiin yaa Rabbal ‘alamiin.
*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Assalamu’alaikum…
Sahabat MK, tentunya di dalam kehidupan kita yang amat singkat ini banyak hal yang kita alami. Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, pasti kita memerlukan teman, sahabat, keluarga maupun orang lain untuk membantu kita. Dari sinilah akan tercipta hubungan pertemanan atau persahabatan yang erat. Bagi mereka yang supel dan mudah bergaul tentunya akan banyak memiliki teman bahkan sahabat.
Dalam perjalanannya persahabatan yang erat akan menumbuhkan rasa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Bermula dari saling mengenal diri, memahami maka akan tumbuh rasa saling menyayangi dan mencintai. Seiring berjalannya waktu suatu hubungan persahabatan suatu ketika akan mengalami cobaan-cobaan, seperti misalnya ketika kita lebih condong kepada salah seorang sahabat terdekat, lebih banyak waktu yang kita habiskan bersamanya. Kedekatan yang semakin lama makin erat ini bisa menimbulkan adanya kecemburuan bagi sahabat yang lain. Kalau hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan renggangnya ukhuwah yang ada. Ukhuwah yang diharapkan membawa berkah malah berubah menjadi wahana prasangka. Kalau sudah begitu, rasanya pertemuan tak lagi menyejukan jiwa, nasehat tak lagi mampu membuat ukhuwah merekat karena hati telah terhalang oleh sakwa sangka.
Sebenarnya kecemburuan itu bisa dihindari atau dicegah jika diantara kita ada sikap saling mengerti dan memahami bahwa dalam persahabatan atau ukhuwah, kita harus memperlakukan sahabat kita dengan adil sesuai porsi dan posisinya. Namun di sisi lain kita juga harus paham bahwa kita tidak bisa memilih dengan siapa hati ini akan condong, ke sahabat mana hati ini terpaut lebih erat, karena di sini murni kuasa Ilahi. Allah-lah yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati.
Maka dari itu sahabat, dari pada kita larut dalam kecemburuan yang tidak membawa manfaat dan tidak sehat, alangkah baiknya kita berlomba-lomba untuk menjadi teman sejati bagi teman-teman kita dan berusaha menjadi sahabat yang terbaik bagi sahabat-sahabat kita, membina ukhuwah terindah bagi saudara-saudara kita. Semoga kelak Allah mengumpulkan kita ke dalam surga-Nya.
Amiin yaa Rabbal’alamiin..
“Terus MERANGKAI KATA untuk menggapai ridha-Nya.”
Wassalamu’alaikum…..
Senin, 19 Juli 2010
Sejenak merenung menyelami diri
Sejenak merenung menyelami diri
Mencoba bertanya pada hati nurani
Siapakah diri ini
Dari apakah kita ini
Layakkah berbangga diri
Teringat bahwa hati ini berlumur dosa
Masa muda berlalu begitu saja
Begitu banyak waktu terbuang sia-sia
Terlena dengan gemerlapnya dunia
Begitu jelas terbayang
Sosok seorang wanita yang amat ku sayang
Kulitnya mulai keriput termakan usia
Uban mulai menghiasi kepalanya
Ia tak lagi sekuat dulu
Segala pengorbanan ia lakukan untukku
Ia belai diriku dengan kasih sayang
Menghibur saat aku dalam kesedihan
Ibu….
Semua telah kau lakukan
Kau ajari aku tentang makna kehidupan
Darimu aku mengenal Rabb semesta Alam
Kau tanamkan iman sebagai landasan kehidupan
Ibu….
Terima kasih tak terhingga
Untuk setiap tetes keringat tanda pengorbanan
Untuk tiap tetes air mata kesedihan
Untuk tiap detik waktu yang engkau persembahkan
Untuk ku yang sangat kau sayang
Ibu….
Maafkan jika belum bisa memenuhi harapanmu
Maafkan bila sering menyakiti perasaanmu
Maafkan bila membuat hatimu luka
Lewat perbuatan dan kata-kata
Aku belum bisa menjadi yang kau harapkan
Belum bisa dibanggakan
Ya Rabb….
Begitu banyak dosa telah kulakukan
Perintah-Mu aku lalaikan
Larangan-Mu aku langgar
Ya Rabb….
Aku mencintai-Mu
Namun jarang mendekat kepada-Mu
Aku rindu Kepada-Mu
Namun tak cukup bekal untuk ku kembali menghadap-Mu
Ya Rabb….
Engkau Maha Pengampun
Maka ampunilah aku
Aku tahu ampunan-Mu lebih luas dari pada amarah-Mu
Ku pasrahkan segala urusanku kepada-Mu
Tunjukkanlah aku ke jalan-Mu yang lurus
Amin ya Rabbal ‘alamiin.
Mencoba bertanya pada hati nurani
Siapakah diri ini
Dari apakah kita ini
Layakkah berbangga diri
Teringat bahwa hati ini berlumur dosa
Masa muda berlalu begitu saja
Begitu banyak waktu terbuang sia-sia
Terlena dengan gemerlapnya dunia
Begitu jelas terbayang
Sosok seorang wanita yang amat ku sayang
Kulitnya mulai keriput termakan usia
Uban mulai menghiasi kepalanya
Ia tak lagi sekuat dulu
Segala pengorbanan ia lakukan untukku
Ia belai diriku dengan kasih sayang
Menghibur saat aku dalam kesedihan
Ibu….
Semua telah kau lakukan
Kau ajari aku tentang makna kehidupan
Darimu aku mengenal Rabb semesta Alam
Kau tanamkan iman sebagai landasan kehidupan
Ibu….
Terima kasih tak terhingga
Untuk setiap tetes keringat tanda pengorbanan
Untuk tiap tetes air mata kesedihan
Untuk tiap detik waktu yang engkau persembahkan
Untuk ku yang sangat kau sayang
Ibu….
Maafkan jika belum bisa memenuhi harapanmu
Maafkan bila sering menyakiti perasaanmu
Maafkan bila membuat hatimu luka
Lewat perbuatan dan kata-kata
Aku belum bisa menjadi yang kau harapkan
Belum bisa dibanggakan
Ya Rabb….
Begitu banyak dosa telah kulakukan
Perintah-Mu aku lalaikan
Larangan-Mu aku langgar
Ya Rabb….
Aku mencintai-Mu
Namun jarang mendekat kepada-Mu
Aku rindu Kepada-Mu
Namun tak cukup bekal untuk ku kembali menghadap-Mu
Ya Rabb….
Engkau Maha Pengampun
Maka ampunilah aku
Aku tahu ampunan-Mu lebih luas dari pada amarah-Mu
Ku pasrahkan segala urusanku kepada-Mu
Tunjukkanlah aku ke jalan-Mu yang lurus
Amin ya Rabbal ‘alamiin.
Selasa, 13 Juli 2010
25 tahun usiaku
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Apa kabar sahabat, semoga selalu dalam limpahan rahmat Allah Yang Maha memberi rahmat. Maafkan jika lama tak menyapa antum sekalian. Semua karena iman yang berkurang hingga berpengaruh pada ukhuwah ku pada kalian. Semoga Allah senantiasa menjaga iman kita semua, sehingga ketika ia berkurang Allah segera memberikan teguran. Semoga dengan begitu iman selalu terpancar dari dalam dada yang nantinya akan menghangatkan ukhuwah yang ada diantara kita.
Sebuah puisi, semoga menjadi renungan buat ku pribadi dan mungkin juga buat antum sekalian;
25 tahun usiaku
Di keheningan malam aku sendiri
Ditemani gelap dan deras hujan yang membasahi bumi
Saat mereka terlelap dalam mimpi
Aku memilih tetap di sini
Mencoba merenung menyelami diri
Menelusup sampai ke relung hati
Pekatnya malam seakan turut menjadi saksi
Derasnya hujan seolah membasahi mata dan hati ini
Anganku melayang menembus gelapnya malam
Jiwaku terbang menerobos tebalnya awan
Teringat akan masa lalu yang telah lewat
Tersadar betapa diri ini masih jauh dari taat
25 tahun sudah aku hidup di bumi
Menikmati segala keindahannya
Melewati segala suka maupun duka
Tenggelam dalam dunianya yang fana
25 tahun aku berkelana
Begitu banyak khilaf dan dosa
Tidak sedikit waktu yang sia-sia
Terlena kinikmatan duniawi sementara
Aku masih di tempatku
Larut dalam sujud panjangku
Penuh harap dalam munajat
Beralaskan sajadah ma’rifat
Mencoba menghisab diri
Tanpa sadar air mata mengalir menjadi saksi
Betapa kotor dan hinanya diri ini
Alangkah keruhnya jiwa dan hati
Masih layakkah untuk mengabdi ?
Dalam rentang usia yang panjang
Tak ada yang bisa kubanggakan
Tak banyak kudapat sebagai bekalan
Untuk menghadap Rabb semesta alam
Ya Rabb….
Bilakah pandangan ini tunduk dalam tawadhu’
Bilakah pendengaran ini terarah hanya kepada-Mu
Bilakah raga ini pasrah dalam Mahabbah suci-Mu
Ya Rabb….
Dalam keheningan malam-Mu
Di atas kain cintaku
Aku memohon ampun atas segala dosa dan khilafku
25 tahun tak terasa usiaku
Sedikit sekali aku mengingat-Mu
Semakin dekat aku menuju-Mu
Namun tak banyak amal yang kubawa menghadap-Mu
Ya Rabb….
Ku pasrahkan sisa umurku kepada-Mu
Tunjukkanlah aku jalan lurus-Mu
Mudahkanlah aku untuk menuju-Mu
Peliharalah aku dalam taubat di jalan-Mu
Jadikanlah Khusnul khotimah di akhir hayatku
Amiin ya Robbal ‘alamiin…
Note:
Ku dedikasikan puisi diatas untuk saudara fillah-ku yang tengah berbahagia di usianya yang ke 25 tahun.
Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam berjuang di jalan-Nya. Di mudahkan segala urusannya, di kabulkan apa yang menjadi harapan dan permintaannya.
Semoga dengan bertambahnya usia, semakin bijak dalam menyikapi hidup, semakin taat kepada Allah, dan sukses dunia akhirat, amin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apa kabar sahabat, semoga selalu dalam limpahan rahmat Allah Yang Maha memberi rahmat. Maafkan jika lama tak menyapa antum sekalian. Semua karena iman yang berkurang hingga berpengaruh pada ukhuwah ku pada kalian. Semoga Allah senantiasa menjaga iman kita semua, sehingga ketika ia berkurang Allah segera memberikan teguran. Semoga dengan begitu iman selalu terpancar dari dalam dada yang nantinya akan menghangatkan ukhuwah yang ada diantara kita.
Sebuah puisi, semoga menjadi renungan buat ku pribadi dan mungkin juga buat antum sekalian;
25 tahun usiaku
Di keheningan malam aku sendiri
Ditemani gelap dan deras hujan yang membasahi bumi
Saat mereka terlelap dalam mimpi
Aku memilih tetap di sini
Mencoba merenung menyelami diri
Menelusup sampai ke relung hati
Pekatnya malam seakan turut menjadi saksi
Derasnya hujan seolah membasahi mata dan hati ini
Anganku melayang menembus gelapnya malam
Jiwaku terbang menerobos tebalnya awan
Teringat akan masa lalu yang telah lewat
Tersadar betapa diri ini masih jauh dari taat
25 tahun sudah aku hidup di bumi
Menikmati segala keindahannya
Melewati segala suka maupun duka
Tenggelam dalam dunianya yang fana
25 tahun aku berkelana
Begitu banyak khilaf dan dosa
Tidak sedikit waktu yang sia-sia
Terlena kinikmatan duniawi sementara
Aku masih di tempatku
Larut dalam sujud panjangku
Penuh harap dalam munajat
Beralaskan sajadah ma’rifat
Mencoba menghisab diri
Tanpa sadar air mata mengalir menjadi saksi
Betapa kotor dan hinanya diri ini
Alangkah keruhnya jiwa dan hati
Masih layakkah untuk mengabdi ?
Dalam rentang usia yang panjang
Tak ada yang bisa kubanggakan
Tak banyak kudapat sebagai bekalan
Untuk menghadap Rabb semesta alam
Ya Rabb….
Bilakah pandangan ini tunduk dalam tawadhu’
Bilakah pendengaran ini terarah hanya kepada-Mu
Bilakah raga ini pasrah dalam Mahabbah suci-Mu
Ya Rabb….
Dalam keheningan malam-Mu
Di atas kain cintaku
Aku memohon ampun atas segala dosa dan khilafku
25 tahun tak terasa usiaku
Sedikit sekali aku mengingat-Mu
Semakin dekat aku menuju-Mu
Namun tak banyak amal yang kubawa menghadap-Mu
Ya Rabb….
Ku pasrahkan sisa umurku kepada-Mu
Tunjukkanlah aku jalan lurus-Mu
Mudahkanlah aku untuk menuju-Mu
Peliharalah aku dalam taubat di jalan-Mu
Jadikanlah Khusnul khotimah di akhir hayatku
Amiin ya Robbal ‘alamiin…
Note:
Ku dedikasikan puisi diatas untuk saudara fillah-ku yang tengah berbahagia di usianya yang ke 25 tahun.
Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam berjuang di jalan-Nya. Di mudahkan segala urusannya, di kabulkan apa yang menjadi harapan dan permintaannya.
Semoga dengan bertambahnya usia, semakin bijak dalam menyikapi hidup, semakin taat kepada Allah, dan sukses dunia akhirat, amin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Minggu, 23 Mei 2010
PERJALANAN SEORANG SAHABAT MENUJU ALLAH
Assalamu’alaikum….
Apa kabar sahabat? Sekian lama tak menyapa, semoga antum semua tetap dalam keimanan dan selalu diliputi rahmat cinta-Nya.
Sahabat, Sepenggal kisah untuk kita, yang kami tulis, terinpirasi dari seorang sahabat yang begitu luar biasa, yang mana kami belajar banyak darinya. Kita simak sama-sama ya !!!
PERJALANAN SEORANG SAHABAT MENUJU ALLAH
“Assalamu’alaikum…”. Terdengar ucapan salam dari arah belakangku. “Wa’alaikum salam warahmatullah”, jawabku seraya menoleh ke arah sumber suara. Ada sesosok ikhwan yang tak asing berjalan menghampiriku. Saat itu ba’da maghrib, waktu yang tak lama untuk sekedar basa-basi. Kemudian aku pamit pergi mendahuluinya, meski dalam hati menyesal, kenapa tidak mengobrol lebih lama.
Itulah awal pertemuanku dengan seseorang yang kini menjadi sahabat terbaikku. Dialah sahabat yang telah Allah kirimkan untuk membuka jalan bagiku dalam usaha menemukan sebuah komunitas yang bisa mengantarku menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Komunitas yang dipenuhi dengan orang-orang yang sholeh, bersemangat menuntut ilmu, dan mempunyai kesamaan visi dalam usaha berjuang menegakkan kalimah Ilahi.
Sebut saja namanya Mas Hanif. Nama lengkapnya Muhammad Hanif . Meski usianya dua tahun lebih muda dariku, namun dalam hal ilmu agama ia lebih faham dan lebih berpengalaman dalam da’wah. Hari-harinya dipenuhi dengan jadwal yang cukup padat. Selain mengajar di Salah satu SD Islam Terpadu di daerahnya, tepatnya di kota sentani Papua, ia juga disibukkan dengan mengisi kajian untuk para pemuda binaannya, dan masih banyak aktivitas lain yang tentunya tidak aku ketahui.
Walaupun kami belum sempat berkenalan, tapi aku tahu namanya dari salah seorang temanku yang telah mengenalnya lebih dulu. Sebenarnya aku sudah sering melihatnya shalat jama’ah di masjid, tapi aku ragu untuk menegur duluan dan hanya bisa mengamati dari kejauhan. “Wah… seperti inilah, gambaran orang sholeh yang cocok dijadikan teman”, pikirku dalam hati. Tetapi karena aku tipe orang yang kurang supel, akhirnya hanya bisa menunggu dan menunggu waktu yang kurasa tepat untuk lebih mengenalnya.
Singkat cerita, kami pun berkenalan. Mengetahui nama satu sama lain meski hanya sebentar karena dia sering tak punya banyak waktu karena harus kembali mengajar, atau entah karena apa yang aku kurang tahu.
Pada kesempatan lainnya, kebetulan ada kegiatan di tempatnya yang diadakan sebulan sekali yaitu acara tasqif. Tasqif adalah suatu kajian yang membahas tentang ilmu agama yang bertujuan menambah wawasan keilmuan, tentunya dalam hal agama. Alhamdulillah banyak yang hadir termasuk aku, tak hanya kalangan ikhwan (laki-laki) tetapi juga kalangan akhwat (perempuan) yang tentunya mereka semua aktif dalam pembinaan keislaman pekanan (halaqoh). Seusai acara itu, dikenalkanlah aku dan beberapa temanku yang lain dengan seorang ustadz yang sekarang menjadi pembimbingku dalam belajar agama islam yang insya Allah sampai kapan pun selagi Allah masih menunjukkan hidayah-Nya padaku.
Meskipun aku dan mas Hanif tidak berada dalam satu halaqoh, namun kami masih bisa saling bersilaturahmi. Tatkala aku sedang libur kerja dia sering mengajakku rihlah atau jalan-jalan menikmati indahnya panorama alam Papua yang sangat memanjakan mata. Sering kami menikmati indahnya danau yang dikelilingi oleh hijaunya pegunungan, melihat indahnya kota sentani dari puncak pegunungan, serta bermain dengan gemericik air sungai yang dingin menyejukkan. Subhanallah, begitu indah Allah menciptakan semuanya tanpa ada cacat sedikitpun dalam penciptaan-Nya di bumi Papua yang menurut perkiraan teman-temanku di Jakarta, Papua itu menyeramkan. Semua itu dikarenakan mereka hanya melihat penduduk pribumi Papua yang hanya memakai koteka. Ternyata mereka salah besar. Papua begitu indah dengan hijaunya hutan dan pegunungan serta luasnya perairan yang masih murni bak hamparan permadani.
Dalam pandanganku, mas Hanif orangnya ramah, enak diajak bertukar fikiran dan cukup terbuka. Walau agak banyak bicara, ada hikmah dalam setiap kata yang terangkai penuh makna, dan itu yang membuat aku betah bila sedang bersamanya. “Indikasi orang yang sholeh”, pikirku, insya Allah.
Satu hal yang membuatku salut padanya adalah perjuangannya dalam meraih dan mempertahankan ilmu agamanya ditengah ujian dan cobaan hidup yang melanda, mempertahankan cahaya iman yang bisa redup sewaktu-waktu dalam perjalanan hidupnya bila tidak di jaga dengan sepenuh hati, jiwa dan raga.
Betapa sejak kecil dia telah ditinggal oleh kedua orang tuanya merantau ke tanah seberang. Dia yang masih kecil tinggal bersama neneknya di sebuah desa di daerah Jawa Timur sana, sedangkan kedua orang tuanya berada di belahan timur Indonesia, Papua.
Sang nenek dengan penuh kasih sayang merawat dan mendidiknya, mengajarkan dasar-dasar pendidikan agama di samping pendidikan islam yang di dapatnya dari sekolah. Dari situlah mas Hanif kecil mengenal agama islam, agama yang penuh rahmat dan kasih sayang ini.
Belasan tahun beliau jauh dari orang tua, belasan tahun yang penuh dengan kerinduan akan belaian kasih sayang, dekapan hangat dari orang-orang terkasihnya. Hanya sang neneklah yang menjadi tempat pelabuhan hati, tempat berkeluh kesah serta menjadi sandarannya untuk meluapkan kerinduan.
Setelah sekian lama berpisah dengan ayah bundanya, akhirnya setelah mas Hanif kecil menyelesaikan sekolah dasarnya, maka ia diajak orang tuanya ke Papua tempat di mana mereka sekarang tinggal.
Sejak saat itulah ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Kemudian mas Hanif melanjutkan Sekolah Menengah Pertamanya di Papua.
Kini, hari-hari mas Hanif dilalui bersama orang tuanya. Semua berjalan baik tanpa ada suatu kendala. Namun entah kenapa suasana terasa datar-datar saja. Ia tidak begitu merasakan adanya kedekatan layaknya seorang anak dengan orang tua pada umumnya. Dia mencoba untuk menjaga hubungan baik dengan ayah bundanya, mencoba untuk lebih dekat lagi dengan keduanya, namun ia merasa sulit untuk melakukan itu. Kadang ia merasa iri melihat teman-temannya yang bisa begitu dekat dengan orang tuanya, bisa bermanja-manja dalam mengungkapkan rasa cinta mereka. Dia sedih, kenapa tidak bisa seperti mereka. Mungkin semua itu karena ia terlalu lama berpisah dengan kedua orang tuanya.
Ternyata kehidupan yang sekarang ia jalani tak seindah seperti di kampung halamannya dulu. Di tempat yang baru, ia seperti orang asing. Ia merasa sendiri dalam keramaian di tengah-tengah lingkungannya, jauh dari nuansa islami seperti yang ia rasakan di kehidupan sebelumnya, ketika tinggal bersama neneknya. Lebih-lebih lingkungan keluarga yang tidak mendukung untuk kehidupan agamanya. Ia pernah bercerita kalau kedua orang tuanya dan satu saudaranya berbeda keyakinan. Ya, mereka nonmuslim. Walau ada saudara perempuannya yang muslim tapi sudah berkeluarga dan tinggal bersama suami. Jadilah ia seorang diri berjuang mempertahankan keyakinannya, mempertahankan prinsip hidup yang paling mendasar. Mungkin ini pula yang menyebabkan ia kurang bisa dekat dengan ayah bunda sebagaimana mestinya.
Dia juga bercerita, betapa dalam perjalannya belajar agama banyak sekali halangan dan rintangan, baik dari keluarga maupun lingkungan bergaulnya sehari-hari. Namun ia juga menyadari semua karena pondasi agama yang mungkin belum begitu kokoh dari dalam dirinya, sehingga mudah terombang-ambing oleh badai cobaan yang menerpa. Dua tahun cukup membuat beliau dalam kebimbangan, hatinya masih labil dalam ketidakpastian dan sangat memerlukan bimbingan.
Dalam keterpurukan kehidupan ruhaninya, ternyata Allah masih menyayanginya. Allah masih berkenan menjaganya. Allah membuat hatinya cenderung mudah diajak dalam kebaikan dan enggan bila diajak kepada hal-hal yang menyimpang. Dalam masa kebimbanga dan pencarian jati dirinya, ada salah seorang teman sekolahnya waktu di SMA mengajaknya untuk mengikuti sebuah kelompok kajian (halaqoh). Awalnya, ia hanya ingin tahu saja apa isi dari pengajian di tempat temannya tersebut, namun seiring berjalannya waktu ia merasa nyaman dan bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan. Sejak saat itu dan seterusnya mas Hanif mengikuti pengajian bersama temannya tanpa henti. Dari situlah dia bertekad untuk berubah, merubah kehidupan ruhaninya menjadi lebih terarah sesuai fitrah sebagai seorang hamba yang taat kepada-Nya.
Melihat kondisi keluarganya yang “berbeda”, ia bertekad harus menemukan seseorang yang bisa dijadikan teladan dan bisa membimbing dirinya dalam usaha menemukan hidayah Allah, menuju kematangan spiritual, hingga akhirnya bertemulah ia dengan seorang ustadz yang sekarang menjadi Murabbinya. Baginya seorang Murabbi adalah orang yang special, karena Murabbi berperan sebagai orang tua, guru, pemimpin bahkan sahabat, sehingga ia jadikan Murabbi sebagai tempat untuk bertukar fikiran dan mencurahkan permasalahan yang ada, bahkan bisa mendapatkan solusi dari permasalahan yang sedang ia hadapi. Kedekatan yang tercipta karena kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka bertemu karena Allah, berpisah pun karena Allah. Ukhuwah islamiyah yang mengesampingkan asal-usul, ras dan golongan bahkan melampaui batas geografis sekalipun.
Salah satu hal yang menjadi impiannya saat ini ialah, ia ingin membimbing sang Bunda untuk kembali kepada islam, mengantarkan Ibundanya meniti kembali kepada agama yang penuh rahmat bagi semesta alam, kembali kepada Ilahi Rabbi.
-oo00oo-
Untuk mas Hanif,
Semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa memberikan pertolongannya untuk antum, memberi kesabaran dalam upaya membimbing Ayah bunda dan menjadi jalan hidayah bagi orang-orang tercinta. Semoga tetap istiqomah dalam berjuang, dan diberi kesabaran yang terbaik dalam menghadapi segala aral yang melintang.
Ana ucapkan terima kasih tak terhingga untuk ukhuwah yang indah ini. Syukron atas bimbingan dan segalanya. Semoga antum selalu dalam selimut rahmat cinta-Nya, di jauhkan dari segala macam keburukan, siang dan malam. Amin ya Rabbal ‘alamiin.
Jazakallahu khoiir.
ANA UKHIBBUKUM FILLAH.
Demikianlah sahabat, sepenggal kisah dari sahabat terbaikku dalam upayanya meniti jalan Ilahi, menggapai nur hidayah-Nya. Semoga bisa diambil ibrahnya untuk kita semua dan menambah semangat kita dalam belajar memperdalam agama ini dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari secara kaffah. Amin ya Rabbal ‘alamiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum…
Note: Untuk kemaslahatan bersama, nama sahabat yang kami kisahkan diatas bukan nama yang sebenarnya, semoga tak mengurangi makna dan tujuannya.
Edit oleh Muhammad hanif
Apa kabar sahabat? Sekian lama tak menyapa, semoga antum semua tetap dalam keimanan dan selalu diliputi rahmat cinta-Nya.
Sahabat, Sepenggal kisah untuk kita, yang kami tulis, terinpirasi dari seorang sahabat yang begitu luar biasa, yang mana kami belajar banyak darinya. Kita simak sama-sama ya !!!
PERJALANAN SEORANG SAHABAT MENUJU ALLAH
“Assalamu’alaikum…”. Terdengar ucapan salam dari arah belakangku. “Wa’alaikum salam warahmatullah”, jawabku seraya menoleh ke arah sumber suara. Ada sesosok ikhwan yang tak asing berjalan menghampiriku. Saat itu ba’da maghrib, waktu yang tak lama untuk sekedar basa-basi. Kemudian aku pamit pergi mendahuluinya, meski dalam hati menyesal, kenapa tidak mengobrol lebih lama.
Itulah awal pertemuanku dengan seseorang yang kini menjadi sahabat terbaikku. Dialah sahabat yang telah Allah kirimkan untuk membuka jalan bagiku dalam usaha menemukan sebuah komunitas yang bisa mengantarku menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Komunitas yang dipenuhi dengan orang-orang yang sholeh, bersemangat menuntut ilmu, dan mempunyai kesamaan visi dalam usaha berjuang menegakkan kalimah Ilahi.
Sebut saja namanya Mas Hanif. Nama lengkapnya Muhammad Hanif . Meski usianya dua tahun lebih muda dariku, namun dalam hal ilmu agama ia lebih faham dan lebih berpengalaman dalam da’wah. Hari-harinya dipenuhi dengan jadwal yang cukup padat. Selain mengajar di Salah satu SD Islam Terpadu di daerahnya, tepatnya di kota sentani Papua, ia juga disibukkan dengan mengisi kajian untuk para pemuda binaannya, dan masih banyak aktivitas lain yang tentunya tidak aku ketahui.
Walaupun kami belum sempat berkenalan, tapi aku tahu namanya dari salah seorang temanku yang telah mengenalnya lebih dulu. Sebenarnya aku sudah sering melihatnya shalat jama’ah di masjid, tapi aku ragu untuk menegur duluan dan hanya bisa mengamati dari kejauhan. “Wah… seperti inilah, gambaran orang sholeh yang cocok dijadikan teman”, pikirku dalam hati. Tetapi karena aku tipe orang yang kurang supel, akhirnya hanya bisa menunggu dan menunggu waktu yang kurasa tepat untuk lebih mengenalnya.
Singkat cerita, kami pun berkenalan. Mengetahui nama satu sama lain meski hanya sebentar karena dia sering tak punya banyak waktu karena harus kembali mengajar, atau entah karena apa yang aku kurang tahu.
Pada kesempatan lainnya, kebetulan ada kegiatan di tempatnya yang diadakan sebulan sekali yaitu acara tasqif. Tasqif adalah suatu kajian yang membahas tentang ilmu agama yang bertujuan menambah wawasan keilmuan, tentunya dalam hal agama. Alhamdulillah banyak yang hadir termasuk aku, tak hanya kalangan ikhwan (laki-laki) tetapi juga kalangan akhwat (perempuan) yang tentunya mereka semua aktif dalam pembinaan keislaman pekanan (halaqoh). Seusai acara itu, dikenalkanlah aku dan beberapa temanku yang lain dengan seorang ustadz yang sekarang menjadi pembimbingku dalam belajar agama islam yang insya Allah sampai kapan pun selagi Allah masih menunjukkan hidayah-Nya padaku.
Meskipun aku dan mas Hanif tidak berada dalam satu halaqoh, namun kami masih bisa saling bersilaturahmi. Tatkala aku sedang libur kerja dia sering mengajakku rihlah atau jalan-jalan menikmati indahnya panorama alam Papua yang sangat memanjakan mata. Sering kami menikmati indahnya danau yang dikelilingi oleh hijaunya pegunungan, melihat indahnya kota sentani dari puncak pegunungan, serta bermain dengan gemericik air sungai yang dingin menyejukkan. Subhanallah, begitu indah Allah menciptakan semuanya tanpa ada cacat sedikitpun dalam penciptaan-Nya di bumi Papua yang menurut perkiraan teman-temanku di Jakarta, Papua itu menyeramkan. Semua itu dikarenakan mereka hanya melihat penduduk pribumi Papua yang hanya memakai koteka. Ternyata mereka salah besar. Papua begitu indah dengan hijaunya hutan dan pegunungan serta luasnya perairan yang masih murni bak hamparan permadani.
Dalam pandanganku, mas Hanif orangnya ramah, enak diajak bertukar fikiran dan cukup terbuka. Walau agak banyak bicara, ada hikmah dalam setiap kata yang terangkai penuh makna, dan itu yang membuat aku betah bila sedang bersamanya. “Indikasi orang yang sholeh”, pikirku, insya Allah.
Satu hal yang membuatku salut padanya adalah perjuangannya dalam meraih dan mempertahankan ilmu agamanya ditengah ujian dan cobaan hidup yang melanda, mempertahankan cahaya iman yang bisa redup sewaktu-waktu dalam perjalanan hidupnya bila tidak di jaga dengan sepenuh hati, jiwa dan raga.
Betapa sejak kecil dia telah ditinggal oleh kedua orang tuanya merantau ke tanah seberang. Dia yang masih kecil tinggal bersama neneknya di sebuah desa di daerah Jawa Timur sana, sedangkan kedua orang tuanya berada di belahan timur Indonesia, Papua.
Sang nenek dengan penuh kasih sayang merawat dan mendidiknya, mengajarkan dasar-dasar pendidikan agama di samping pendidikan islam yang di dapatnya dari sekolah. Dari situlah mas Hanif kecil mengenal agama islam, agama yang penuh rahmat dan kasih sayang ini.
Belasan tahun beliau jauh dari orang tua, belasan tahun yang penuh dengan kerinduan akan belaian kasih sayang, dekapan hangat dari orang-orang terkasihnya. Hanya sang neneklah yang menjadi tempat pelabuhan hati, tempat berkeluh kesah serta menjadi sandarannya untuk meluapkan kerinduan.
Setelah sekian lama berpisah dengan ayah bundanya, akhirnya setelah mas Hanif kecil menyelesaikan sekolah dasarnya, maka ia diajak orang tuanya ke Papua tempat di mana mereka sekarang tinggal.
Sejak saat itulah ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Kemudian mas Hanif melanjutkan Sekolah Menengah Pertamanya di Papua.
Kini, hari-hari mas Hanif dilalui bersama orang tuanya. Semua berjalan baik tanpa ada suatu kendala. Namun entah kenapa suasana terasa datar-datar saja. Ia tidak begitu merasakan adanya kedekatan layaknya seorang anak dengan orang tua pada umumnya. Dia mencoba untuk menjaga hubungan baik dengan ayah bundanya, mencoba untuk lebih dekat lagi dengan keduanya, namun ia merasa sulit untuk melakukan itu. Kadang ia merasa iri melihat teman-temannya yang bisa begitu dekat dengan orang tuanya, bisa bermanja-manja dalam mengungkapkan rasa cinta mereka. Dia sedih, kenapa tidak bisa seperti mereka. Mungkin semua itu karena ia terlalu lama berpisah dengan kedua orang tuanya.
Ternyata kehidupan yang sekarang ia jalani tak seindah seperti di kampung halamannya dulu. Di tempat yang baru, ia seperti orang asing. Ia merasa sendiri dalam keramaian di tengah-tengah lingkungannya, jauh dari nuansa islami seperti yang ia rasakan di kehidupan sebelumnya, ketika tinggal bersama neneknya. Lebih-lebih lingkungan keluarga yang tidak mendukung untuk kehidupan agamanya. Ia pernah bercerita kalau kedua orang tuanya dan satu saudaranya berbeda keyakinan. Ya, mereka nonmuslim. Walau ada saudara perempuannya yang muslim tapi sudah berkeluarga dan tinggal bersama suami. Jadilah ia seorang diri berjuang mempertahankan keyakinannya, mempertahankan prinsip hidup yang paling mendasar. Mungkin ini pula yang menyebabkan ia kurang bisa dekat dengan ayah bunda sebagaimana mestinya.
Dia juga bercerita, betapa dalam perjalannya belajar agama banyak sekali halangan dan rintangan, baik dari keluarga maupun lingkungan bergaulnya sehari-hari. Namun ia juga menyadari semua karena pondasi agama yang mungkin belum begitu kokoh dari dalam dirinya, sehingga mudah terombang-ambing oleh badai cobaan yang menerpa. Dua tahun cukup membuat beliau dalam kebimbangan, hatinya masih labil dalam ketidakpastian dan sangat memerlukan bimbingan.
Dalam keterpurukan kehidupan ruhaninya, ternyata Allah masih menyayanginya. Allah masih berkenan menjaganya. Allah membuat hatinya cenderung mudah diajak dalam kebaikan dan enggan bila diajak kepada hal-hal yang menyimpang. Dalam masa kebimbanga dan pencarian jati dirinya, ada salah seorang teman sekolahnya waktu di SMA mengajaknya untuk mengikuti sebuah kelompok kajian (halaqoh). Awalnya, ia hanya ingin tahu saja apa isi dari pengajian di tempat temannya tersebut, namun seiring berjalannya waktu ia merasa nyaman dan bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan. Sejak saat itu dan seterusnya mas Hanif mengikuti pengajian bersama temannya tanpa henti. Dari situlah dia bertekad untuk berubah, merubah kehidupan ruhaninya menjadi lebih terarah sesuai fitrah sebagai seorang hamba yang taat kepada-Nya.
Melihat kondisi keluarganya yang “berbeda”, ia bertekad harus menemukan seseorang yang bisa dijadikan teladan dan bisa membimbing dirinya dalam usaha menemukan hidayah Allah, menuju kematangan spiritual, hingga akhirnya bertemulah ia dengan seorang ustadz yang sekarang menjadi Murabbinya. Baginya seorang Murabbi adalah orang yang special, karena Murabbi berperan sebagai orang tua, guru, pemimpin bahkan sahabat, sehingga ia jadikan Murabbi sebagai tempat untuk bertukar fikiran dan mencurahkan permasalahan yang ada, bahkan bisa mendapatkan solusi dari permasalahan yang sedang ia hadapi. Kedekatan yang tercipta karena kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka bertemu karena Allah, berpisah pun karena Allah. Ukhuwah islamiyah yang mengesampingkan asal-usul, ras dan golongan bahkan melampaui batas geografis sekalipun.
Salah satu hal yang menjadi impiannya saat ini ialah, ia ingin membimbing sang Bunda untuk kembali kepada islam, mengantarkan Ibundanya meniti kembali kepada agama yang penuh rahmat bagi semesta alam, kembali kepada Ilahi Rabbi.
-oo00oo-
Untuk mas Hanif,
Semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa memberikan pertolongannya untuk antum, memberi kesabaran dalam upaya membimbing Ayah bunda dan menjadi jalan hidayah bagi orang-orang tercinta. Semoga tetap istiqomah dalam berjuang, dan diberi kesabaran yang terbaik dalam menghadapi segala aral yang melintang.
Ana ucapkan terima kasih tak terhingga untuk ukhuwah yang indah ini. Syukron atas bimbingan dan segalanya. Semoga antum selalu dalam selimut rahmat cinta-Nya, di jauhkan dari segala macam keburukan, siang dan malam. Amin ya Rabbal ‘alamiin.
Jazakallahu khoiir.
ANA UKHIBBUKUM FILLAH.
Demikianlah sahabat, sepenggal kisah dari sahabat terbaikku dalam upayanya meniti jalan Ilahi, menggapai nur hidayah-Nya. Semoga bisa diambil ibrahnya untuk kita semua dan menambah semangat kita dalam belajar memperdalam agama ini dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari secara kaffah. Amin ya Rabbal ‘alamiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum…
Note: Untuk kemaslahatan bersama, nama sahabat yang kami kisahkan diatas bukan nama yang sebenarnya, semoga tak mengurangi makna dan tujuannya.
Edit oleh Muhammad hanif
Senin, 03 Mei 2010
Dinamika Ukhuwah
Assalamu’alaikum….
Apa kabar sahabat ? Semoga bahagia selalu menyelimuti setiap harimu, meski kadang sedih menghampiri, mudah-mudahan takkan lama menghiasi diri.
Sekian lama tak merangkai kata, kali ini aku mencoba untuk belajar lagi menorehkan tinta, mencoba menggabungkan kata hingga menjadi sesuatu yang berguna, insya Allah.
Dinamika Ukhuwah
“Dalam persahabatan ada semacam trik tarik ulur. Dalam arti ada saat di mana kita bersama dan ada juga saat di mana kita tidak bersama atau saling berjauhan. Berjauhan di sini bukan karena adanya konflik tetapi hanya berpisah untuk sementara waktu.”
Itulah jawaban atas pertanyaanku kepada ustadz murabiku tentang bagaimana kita menjalin suatu hubungan persahabatan. Lebih lanjut ustadz menjelaskan bahwa dalam persahabatan tidak harus selalu bersama. Misalnya kemana-mana harus selau berdua. Tidak seperti itu. Persahabatan seperti ini bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Kebersamaan dalam jangka waktu yang lama tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan kebosanan. Jika suatu waktu terjadi konflik atau perselisiahan akan sulit untuk menemukan jalan keluar.
Perbedaan yang timbul akan sangat kentara. Yang tadinya kemana-mana berdua, tiba-tiba saling bersendiri, acuh tak acuh dan lain sebagainya. Dalam persahabatan hendaknya ada semacam dinamika seperti halnya dalam sebuah keluarga. Seorang suami yang meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk beberapa waktu lamanya. Ada seorang suami yang pergi meninggalkan keluarganya selama satu hari, dua hari, tiga hari atau lebih dalam usaha mencari nafkah, berda’wah atau yang lainnya. Dari situ akan timbul rasa rindu, rasa sayang dan rasa saling mencintai. Semakin lama ditinggalkan semakin besar rasa rindu yang ada sehingga ada kebahagiaan tak terhingga ketika berjumpa, saat meluahkan rasa rindu yang telah menumpuk di hati sekian hari lamanya.
Begitu juga dalam hubungan persahabatan. Ketika lama tidak berjumpa ada kerinduan yang diam-diam menyusup ke hati, timbul rasa cinta dan saling menyayangi, ada keakraban yang lebih hangat ketika saling bersua.
Sampai di sini aku hanya bisa diam mengiyakan. Sungguh penjelasan ustadz tersebut benar adanya. Betapa diri ini masih harus belajar lebih banyak lagi menggali ilmu bagaimana membina suatu hubungan persahabatan. Terlebih persahabatan yang dibina atas dasar ukhuwah islamiyah. Persahabatan yang dibangun atas dasar cinta kepada Dzat yang memiliki cinta yaitu Allah Subhanahu wata’ala. Ukhuwah yang terjalin karena ikatan iman, kesamaan visi dalam menegakkan kalimat Ilahi.
Apa yang telah terjadi pada masa lalu aku anggap sebagai pelajaran yang berharga untuk kujadikan pelajaran untuk masa yang akan datang.
Untuk sahabat yang pernah ku sakiti, pernah ku kecewakan dalam persahabatan kita, aku mohon kerelaannya untuk memaafkan segala khilaf. Maafkan karena kelemahan iman, maafkan karena ego ini yang lebih sering ku kedepankan. Semoga Allah Subhanahu wata’ala mengampuni dosa-dosaku, dosa-dosa kedua orang tuaku, keluargaku, dosa-dosa sahabat-sahabat terbaikku, kaum mukminin-mukminat, muslimin-muslimat semuanya. Amin ya Rabbal’alamiin.
Wallahu a’alam,
^^Terus merangkai kata demi menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum….
Apa kabar sahabat ? Semoga bahagia selalu menyelimuti setiap harimu, meski kadang sedih menghampiri, mudah-mudahan takkan lama menghiasi diri.
Sekian lama tak merangkai kata, kali ini aku mencoba untuk belajar lagi menorehkan tinta, mencoba menggabungkan kata hingga menjadi sesuatu yang berguna, insya Allah.
Dinamika Ukhuwah
“Dalam persahabatan ada semacam trik tarik ulur. Dalam arti ada saat di mana kita bersama dan ada juga saat di mana kita tidak bersama atau saling berjauhan. Berjauhan di sini bukan karena adanya konflik tetapi hanya berpisah untuk sementara waktu.”
Itulah jawaban atas pertanyaanku kepada ustadz murabiku tentang bagaimana kita menjalin suatu hubungan persahabatan. Lebih lanjut ustadz menjelaskan bahwa dalam persahabatan tidak harus selalu bersama. Misalnya kemana-mana harus selau berdua. Tidak seperti itu. Persahabatan seperti ini bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Kebersamaan dalam jangka waktu yang lama tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan kebosanan. Jika suatu waktu terjadi konflik atau perselisiahan akan sulit untuk menemukan jalan keluar.
Perbedaan yang timbul akan sangat kentara. Yang tadinya kemana-mana berdua, tiba-tiba saling bersendiri, acuh tak acuh dan lain sebagainya. Dalam persahabatan hendaknya ada semacam dinamika seperti halnya dalam sebuah keluarga. Seorang suami yang meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk beberapa waktu lamanya. Ada seorang suami yang pergi meninggalkan keluarganya selama satu hari, dua hari, tiga hari atau lebih dalam usaha mencari nafkah, berda’wah atau yang lainnya. Dari situ akan timbul rasa rindu, rasa sayang dan rasa saling mencintai. Semakin lama ditinggalkan semakin besar rasa rindu yang ada sehingga ada kebahagiaan tak terhingga ketika berjumpa, saat meluahkan rasa rindu yang telah menumpuk di hati sekian hari lamanya.
Begitu juga dalam hubungan persahabatan. Ketika lama tidak berjumpa ada kerinduan yang diam-diam menyusup ke hati, timbul rasa cinta dan saling menyayangi, ada keakraban yang lebih hangat ketika saling bersua.
Sampai di sini aku hanya bisa diam mengiyakan. Sungguh penjelasan ustadz tersebut benar adanya. Betapa diri ini masih harus belajar lebih banyak lagi menggali ilmu bagaimana membina suatu hubungan persahabatan. Terlebih persahabatan yang dibina atas dasar ukhuwah islamiyah. Persahabatan yang dibangun atas dasar cinta kepada Dzat yang memiliki cinta yaitu Allah Subhanahu wata’ala. Ukhuwah yang terjalin karena ikatan iman, kesamaan visi dalam menegakkan kalimat Ilahi.
Apa yang telah terjadi pada masa lalu aku anggap sebagai pelajaran yang berharga untuk kujadikan pelajaran untuk masa yang akan datang.
Untuk sahabat yang pernah ku sakiti, pernah ku kecewakan dalam persahabatan kita, aku mohon kerelaannya untuk memaafkan segala khilaf. Maafkan karena kelemahan iman, maafkan karena ego ini yang lebih sering ku kedepankan. Semoga Allah Subhanahu wata’ala mengampuni dosa-dosaku, dosa-dosa kedua orang tuaku, keluargaku, dosa-dosa sahabat-sahabat terbaikku, kaum mukminin-mukminat, muslimin-muslimat semuanya. Amin ya Rabbal’alamiin.
Wallahu a’alam,
^^Terus merangkai kata demi menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum….
Selasa, 13 April 2010
Gejolak Hawa Nafsu
Gejolak Hawa Nafsu
Datangnya sulit diduga
Ia muncul tiba-tiba
Ketika menjelma bisa meluluhlantakan
Pertahanan yang ada
Itulah hawa nafsu
Ia muncul dengan kebahagiaan semu
Merayu hatiku yang penuh debu
Menginjak-injak hingga kelu
Mencabik, menyayat hingga luka
Menggerus kesucian jiwa
Melumurinya dengan noda dan dosa
Mengoyak lapisan pelindungnya
Mengusik ketenangannya
Ketika hati telah kalah
Pikiran pun seakan pasrah
Anggota badan menjadi liar tak terarah
Maka yang seharusnya tak terjadi terjadilah
Pandangan melesat bagai anak panah
Hati terbungkus nafsu membuncah
Berdesir darah mendidih meluapkan gairah
Maka yang seharusnya tak terjadi terjadilah
Hati pun terkulai berselimut lemah
Nafsu melenggang penuh kemenangan
Pergi dengan tawa tak terkalahkan
Lari tanpa belas kasihan
Berbalik berkacak pinggang
Sedangkan aku
Aku hancur, lebur dalam sesal
Sendiri dalam kesal
Seakan aku kehilangan akal
Aku belum bisa mengalahkan hawa nafsuku
Mengendalikan pandanganku
Mengarahkannya hanya pada-Mu
Ya Allah aku lemah, berilah kekuatan
Ya Rabb…
Aku khilaf, berilah maaf
Aku lupa maka ingatkanlah
Aku penuh dosa maka ampunkanlah
(Dalam renungan)
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Datangnya sulit diduga
Ia muncul tiba-tiba
Ketika menjelma bisa meluluhlantakan
Pertahanan yang ada
Itulah hawa nafsu
Ia muncul dengan kebahagiaan semu
Merayu hatiku yang penuh debu
Menginjak-injak hingga kelu
Mencabik, menyayat hingga luka
Menggerus kesucian jiwa
Melumurinya dengan noda dan dosa
Mengoyak lapisan pelindungnya
Mengusik ketenangannya
Ketika hati telah kalah
Pikiran pun seakan pasrah
Anggota badan menjadi liar tak terarah
Maka yang seharusnya tak terjadi terjadilah
Pandangan melesat bagai anak panah
Hati terbungkus nafsu membuncah
Berdesir darah mendidih meluapkan gairah
Maka yang seharusnya tak terjadi terjadilah
Hati pun terkulai berselimut lemah
Nafsu melenggang penuh kemenangan
Pergi dengan tawa tak terkalahkan
Lari tanpa belas kasihan
Berbalik berkacak pinggang
Sedangkan aku
Aku hancur, lebur dalam sesal
Sendiri dalam kesal
Seakan aku kehilangan akal
Aku belum bisa mengalahkan hawa nafsuku
Mengendalikan pandanganku
Mengarahkannya hanya pada-Mu
Ya Allah aku lemah, berilah kekuatan
Ya Rabb…
Aku khilaf, berilah maaf
Aku lupa maka ingatkanlah
Aku penuh dosa maka ampunkanlah
(Dalam renungan)
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Minggu, 21 Maret 2010
Belajar Mencintai-Nya
Assalamu’alaikum…
Apa kabar sahabat, maafkan jika lama tak menyapa kalian, semoga selalu dalam selimut rahmat-Nya.
Sahabat, mungkin sering kau dengar juga kau baca disetiap suratku. Aku selalu berkata bahwa aku mencintaimu karena Allah, aku mencintai kalian semua karena Allah, atau kadang dengan kata ‘Ana uhibbukum fillah.’
Sahabat, tahukah kalian? Sejatinya diri ini masih tertatih dalam meniti jalan ini, masih banyak kekurangan, masih sering khilaf memperturutkan hawa nafsu yang semua itu mengikis cinta yang ada untuk-Nya juga untuk kalian semua.
Dalam setiap keluh kesahku, dalam kelanaku bersama Rabb di malam-malamku tak henti lisan ini menyatakan, aku mencintai-Mu ya Allah, aku menyayangi-Mu.
Sahabat, namun begitu aku sering bertanya, menelusuri ke kedalaman hatiku. Benarkah cinta ini, sejatikah rindu ini. Ku coba menelusup ke relung jiwa apa yang telah kujadikan sebagai bukti cinta atas-Nya?
Betapa cinta yang terucap dari bibir ini butuh pembuktian yang nyata, perlu ketulusan hati, serta keikhlasan yang membalutnya untuk bisa merealisasikannya.
Aku mencoba dan berusaha mendekati-Nya sedekat-dekatnya, melakukan apa yang Ia suka semampuku. Kucoba mencinta-Nya apa-apa yang Ia cinta. Hal-hal kesukaan-Nya yang lama telah kutinggalkan satu demi satu kujalani lagi. Semua kulakukan hanya untuk-Nya, demi cintaku kepada-Nya.
Ya Allah, jujur aku sering bertanya pada hatiku, layakkah ini kujadikan sebagai bukti cintaku, karena pada kenyataannya untuk melakukan pembuktian itu aku butuh pertolongan-Mu, taufik dan hidayah-Mu.
Sahabat, dalam masa latihanku untuk mencintai-Nya, kucoba menata hati, ku lapangkan dada seluas samudra, membuang segala celaan dan dendam di dalamnya. Aku belajar untuk lebih mengerti, memahami dan peduli kepada sesama, termasuk kamu juga kalian, juga belajar mencintai kalian semua kerena-Nya.
Aku belajar menyapa dirimu dengan salam terhangatku saat bertemu, ku jabat erat tanganmu teriring senyum ikhlas dari bibirku. Semua itu adalah usahaku untuk menumbuhkan cinta di antara kalian dan aku, yang semoga Allah mencintaiku karena cintaku kepada kalian karena-Nya.
Sahabat, aku mencintaimu, aku mencintai kalian semua hanya karena aku ingin mendapatkan cinta-Nya. Bersemi dari dasar relung hati yang murni, tulus suci. Bahkan cintaku pada kalian tercipta karena limpahan cinta-Nya. Semoga cinta Allah bersemayam di hatiku dan juga dihatimu, hati kalian semua. Amiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Apa kabar sahabat, maafkan jika lama tak menyapa kalian, semoga selalu dalam selimut rahmat-Nya.
Sahabat, mungkin sering kau dengar juga kau baca disetiap suratku. Aku selalu berkata bahwa aku mencintaimu karena Allah, aku mencintai kalian semua karena Allah, atau kadang dengan kata ‘Ana uhibbukum fillah.’
Sahabat, tahukah kalian? Sejatinya diri ini masih tertatih dalam meniti jalan ini, masih banyak kekurangan, masih sering khilaf memperturutkan hawa nafsu yang semua itu mengikis cinta yang ada untuk-Nya juga untuk kalian semua.
Dalam setiap keluh kesahku, dalam kelanaku bersama Rabb di malam-malamku tak henti lisan ini menyatakan, aku mencintai-Mu ya Allah, aku menyayangi-Mu.
Sahabat, namun begitu aku sering bertanya, menelusuri ke kedalaman hatiku. Benarkah cinta ini, sejatikah rindu ini. Ku coba menelusup ke relung jiwa apa yang telah kujadikan sebagai bukti cinta atas-Nya?
Betapa cinta yang terucap dari bibir ini butuh pembuktian yang nyata, perlu ketulusan hati, serta keikhlasan yang membalutnya untuk bisa merealisasikannya.
Aku mencoba dan berusaha mendekati-Nya sedekat-dekatnya, melakukan apa yang Ia suka semampuku. Kucoba mencinta-Nya apa-apa yang Ia cinta. Hal-hal kesukaan-Nya yang lama telah kutinggalkan satu demi satu kujalani lagi. Semua kulakukan hanya untuk-Nya, demi cintaku kepada-Nya.
Ya Allah, jujur aku sering bertanya pada hatiku, layakkah ini kujadikan sebagai bukti cintaku, karena pada kenyataannya untuk melakukan pembuktian itu aku butuh pertolongan-Mu, taufik dan hidayah-Mu.
Sahabat, dalam masa latihanku untuk mencintai-Nya, kucoba menata hati, ku lapangkan dada seluas samudra, membuang segala celaan dan dendam di dalamnya. Aku belajar untuk lebih mengerti, memahami dan peduli kepada sesama, termasuk kamu juga kalian, juga belajar mencintai kalian semua kerena-Nya.
Aku belajar menyapa dirimu dengan salam terhangatku saat bertemu, ku jabat erat tanganmu teriring senyum ikhlas dari bibirku. Semua itu adalah usahaku untuk menumbuhkan cinta di antara kalian dan aku, yang semoga Allah mencintaiku karena cintaku kepada kalian karena-Nya.
Sahabat, aku mencintaimu, aku mencintai kalian semua hanya karena aku ingin mendapatkan cinta-Nya. Bersemi dari dasar relung hati yang murni, tulus suci. Bahkan cintaku pada kalian tercipta karena limpahan cinta-Nya. Semoga cinta Allah bersemayam di hatiku dan juga dihatimu, hati kalian semua. Amiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Jumat, 12 Maret 2010
Bersihkan hati dan jiwa dari selain-Nya
Assalamu’alaikum…
Apa kabar sahabat… semoga tak lelah memantapkan iman, tak lelah meniti jalan ke surga-Nya.
Sahabat… setiap saat, setiap waktu dengan cinta-Nya Allah memanggil dan menanti hamba-Nya. Dengan sabar Allah menunggu kita semua untuk kembali taat kepada-Nya.
Dari semejak kita bangun tidur sampai kita tidur kembali di situ ada Allah yang senantiasa menyertai setiap gerak langkah kita, menyaksikan kita. Setiap saat Dia dalam penantian.
Namun, betapa sering kita sebagai hamba yang telah dikaruniai berbagai nikmat melupakan-Nya. Kita terlalu sibuk dengan dunia kita masing-masing. Namun begitu Allah tetap sayang kepada kita.
Sering Allah mengingatkan kita dengan teguran-teguran kecil yang Ia timpakan kepada kita dengan harapan kita akan mengadu kepada-Nya, memohon pertolongan-Nya. Sering Allah memberi berbagai kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri, sedikit lebih peduli dengan kehidupan rohani, membersihkan hati, namun begitulah, kita lebih sering menepis dorongan nurani yang mengajak kita kembali mengingat-Nya.
Kita lebih sering menunda dan mengabaikan berbagai kesempatan yang Allah tawarkan, menganggap kecil peringatan yang diberikan, berharap masih ada waktu baginya memperbaiki diri di kemudian hari.
Wahai diriku dan Sahabatku…, pandai-pandailah mengatur waktumu. Jangan kau habiskan semuanya untuk duniamu. Ingat, bahwa kau takkan hidup selamanya. Dunia ini fana, tiada kesenangan yang abadi di sini. Semuanya hanya fatamorgana. Janganlah kau tukar kebahagiaanmu yang kekal kelak dengan kesenangan sesaat sekarang yang akan berujung pada penyesalan yang tiada berkesudahan.
Wahai diriku dan sahabatku…. Bersegeralah dalam kebaikan, berhati-hatilah menjalani hidupmu. Waspadalah dengan cobaan-cobaan kecil yang ada padamu. Bisa jadi ia adalah tanda sindiran dari Allah, bahwa kau mulai bergeser menjauhi-Nya.
Peliharalah hatimu dari keterlenaan, kealfaan dari mengingat-Nya, bersihkan hatimu sebersih-bersihnya, karena dengan begitu kau akan mudah menyerap semua ilmu-Nya, peka terhadap kesempatan dan peringatan dari-Nya.
Sahabat, selamat berjuang meniti jalan ini, bersihkan hati, bersihkan jiwa dari segala sesuatu yang menjauhkanmu dari-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Amiin ya Rabbal ‘alamiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum….
Salam,
Ibnu Abdul Rochman
Apa kabar sahabat… semoga tak lelah memantapkan iman, tak lelah meniti jalan ke surga-Nya.
Sahabat… setiap saat, setiap waktu dengan cinta-Nya Allah memanggil dan menanti hamba-Nya. Dengan sabar Allah menunggu kita semua untuk kembali taat kepada-Nya.
Dari semejak kita bangun tidur sampai kita tidur kembali di situ ada Allah yang senantiasa menyertai setiap gerak langkah kita, menyaksikan kita. Setiap saat Dia dalam penantian.
Namun, betapa sering kita sebagai hamba yang telah dikaruniai berbagai nikmat melupakan-Nya. Kita terlalu sibuk dengan dunia kita masing-masing. Namun begitu Allah tetap sayang kepada kita.
Sering Allah mengingatkan kita dengan teguran-teguran kecil yang Ia timpakan kepada kita dengan harapan kita akan mengadu kepada-Nya, memohon pertolongan-Nya. Sering Allah memberi berbagai kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri, sedikit lebih peduli dengan kehidupan rohani, membersihkan hati, namun begitulah, kita lebih sering menepis dorongan nurani yang mengajak kita kembali mengingat-Nya.
Kita lebih sering menunda dan mengabaikan berbagai kesempatan yang Allah tawarkan, menganggap kecil peringatan yang diberikan, berharap masih ada waktu baginya memperbaiki diri di kemudian hari.
Wahai diriku dan Sahabatku…, pandai-pandailah mengatur waktumu. Jangan kau habiskan semuanya untuk duniamu. Ingat, bahwa kau takkan hidup selamanya. Dunia ini fana, tiada kesenangan yang abadi di sini. Semuanya hanya fatamorgana. Janganlah kau tukar kebahagiaanmu yang kekal kelak dengan kesenangan sesaat sekarang yang akan berujung pada penyesalan yang tiada berkesudahan.
Wahai diriku dan sahabatku…. Bersegeralah dalam kebaikan, berhati-hatilah menjalani hidupmu. Waspadalah dengan cobaan-cobaan kecil yang ada padamu. Bisa jadi ia adalah tanda sindiran dari Allah, bahwa kau mulai bergeser menjauhi-Nya.
Peliharalah hatimu dari keterlenaan, kealfaan dari mengingat-Nya, bersihkan hatimu sebersih-bersihnya, karena dengan begitu kau akan mudah menyerap semua ilmu-Nya, peka terhadap kesempatan dan peringatan dari-Nya.
Sahabat, selamat berjuang meniti jalan ini, bersihkan hati, bersihkan jiwa dari segala sesuatu yang menjauhkanmu dari-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Amiin ya Rabbal ‘alamiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum….
Salam,
Ibnu Abdul Rochman
Jumat, 05 Maret 2010
Indahnya Ukhuwah ini
Assalamu’alaikum….
Apa kabar sahabat, lama tak menyapa, rindu terasa. Semoga rasa ini tetap murni dalam bingkai rahmat-Nya.
Sahabat, tentunya dalam ukhuwah ini akan lebih indah ketika kita bisa saling mengisi, saling mengingatkan, sabar dalam menghadapi konflik yang mungkin saja ada. Pertengkaran yang tak terhindarkan. Tidak indah rasanya ketika ukhuwah ini berjalan lurus-lurus saja, monoton dan tanpa adanya lika-liku persoalan yang menghiasinya.
Ada kalanya kesalahpahaman muncul dalam ukhuwah. Disitu kedewasaan kita dituntut, kebesaran hati kita diuji, siapakah yang lebih berbesar hati untuk menyapa duluan, siapakah yang lebih bisa memaafkan pertama kali. Disamping itu, keimananlah yang berperan dalam mengatasi masalah yang ada. Segalanya akan terarah ketika terbungkus iman. Orang yang beriman akan marah kalau memang ada hak untuk itu, namun semua tetap dalam koridor keridhaan-Nya.
Sahabat, sebagai seorang yang beriman tentunya kita bisa menempatkan diri kita dalam setiap kejadian, setiap masalah yang timbul. Selain itu juga bisa menempatkan sahabat kita sesuai dengan hak dan posisinya yang tepat. Jadilah orang yang mudah memaafkan, berlapang dada, serta mempunya kejernihan hati dan pikiran.
Mudah? Memang tidak mudah, semudah kita berkata. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun semua akan menjadi niscaya ketika ukhuwah ini terjalin karena adanya cinta yang tulus dari dasar hati. Cinta agung yang bersumber dari-Nya. Semua dari Allah, untuk Allah dan akan kembali kepada Allah.
Sahabat, hanya kepada-Nya kita bergantung dan berserah diri. Hanya kepada Allah kita menambatkan hati, takut sekaligus berharap kepada-Nya. Allah-lah yang meletakkan segala rasa dalam dada kita dan mereka (sahabat) sehingga ukhuwah ini tercipta. Segala masalah yang ada dalam ukhuwah ini juga adalah kehendak-Nya untuk menguji sejauh mana kekuatan cinta yang ada di dalamnya. Kuatkah, rapuhkah, dengan ujian semua akan terbuka yang sebenarnya.
Cinta yang ada akan semakin kokoh ketika kita bisa saling memaafkan, saling mengikhlaskan hati menerima kekurangan yang ada. Senyumpun mengembang tanda perdamaian, makin erat cinta yang ada, dan tercipta kasih sayang yang menyejukkan dada dalam upaya bersama berjuang meniti jalan dan ridha-Nya.
Terima kasih untukmu sahabat atas ukhuwah yang indah ini, semoga semakin kokoh dan selalu dalam bingkai rahmat-Nya. Ana ukhibbukum fillah.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum…
By Ibnu Abdul Rochman
Apa kabar sahabat, lama tak menyapa, rindu terasa. Semoga rasa ini tetap murni dalam bingkai rahmat-Nya.
Sahabat, tentunya dalam ukhuwah ini akan lebih indah ketika kita bisa saling mengisi, saling mengingatkan, sabar dalam menghadapi konflik yang mungkin saja ada. Pertengkaran yang tak terhindarkan. Tidak indah rasanya ketika ukhuwah ini berjalan lurus-lurus saja, monoton dan tanpa adanya lika-liku persoalan yang menghiasinya.
Ada kalanya kesalahpahaman muncul dalam ukhuwah. Disitu kedewasaan kita dituntut, kebesaran hati kita diuji, siapakah yang lebih berbesar hati untuk menyapa duluan, siapakah yang lebih bisa memaafkan pertama kali. Disamping itu, keimananlah yang berperan dalam mengatasi masalah yang ada. Segalanya akan terarah ketika terbungkus iman. Orang yang beriman akan marah kalau memang ada hak untuk itu, namun semua tetap dalam koridor keridhaan-Nya.
Sahabat, sebagai seorang yang beriman tentunya kita bisa menempatkan diri kita dalam setiap kejadian, setiap masalah yang timbul. Selain itu juga bisa menempatkan sahabat kita sesuai dengan hak dan posisinya yang tepat. Jadilah orang yang mudah memaafkan, berlapang dada, serta mempunya kejernihan hati dan pikiran.
Mudah? Memang tidak mudah, semudah kita berkata. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun semua akan menjadi niscaya ketika ukhuwah ini terjalin karena adanya cinta yang tulus dari dasar hati. Cinta agung yang bersumber dari-Nya. Semua dari Allah, untuk Allah dan akan kembali kepada Allah.
Sahabat, hanya kepada-Nya kita bergantung dan berserah diri. Hanya kepada Allah kita menambatkan hati, takut sekaligus berharap kepada-Nya. Allah-lah yang meletakkan segala rasa dalam dada kita dan mereka (sahabat) sehingga ukhuwah ini tercipta. Segala masalah yang ada dalam ukhuwah ini juga adalah kehendak-Nya untuk menguji sejauh mana kekuatan cinta yang ada di dalamnya. Kuatkah, rapuhkah, dengan ujian semua akan terbuka yang sebenarnya.
Cinta yang ada akan semakin kokoh ketika kita bisa saling memaafkan, saling mengikhlaskan hati menerima kekurangan yang ada. Senyumpun mengembang tanda perdamaian, makin erat cinta yang ada, dan tercipta kasih sayang yang menyejukkan dada dalam upaya bersama berjuang meniti jalan dan ridha-Nya.
Terima kasih untukmu sahabat atas ukhuwah yang indah ini, semoga semakin kokoh dan selalu dalam bingkai rahmat-Nya. Ana ukhibbukum fillah.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum…
By Ibnu Abdul Rochman
Minggu, 28 Februari 2010
Sudahkah Kita Benar-benar Mengenal-Nya?
Assalamu’alaikum…
Apa kabar sahabat, semoga cintamu dan cintaku kian bersemi indah mewangi menebar aroma kebaikan, semerbak dalam totalitas penghambaan kepada-Nya.
Sahabat, cinta tak akan ada manakala kita belum mengenal, sayang tak kan terasa ketika kita tak saling sapa. Ada banyak cinta dalam kehidupan kita. Cinta kepada orang tua, cinta kepada saudara, cinta kepada sahabat, dan berbagai cinta dengan segala macam ekspresinya.
Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah alamiah yang merupakan anugerah dari Rabb yang Maha Mencinta. Cinta itu mengalir dari sanubari, dari keikhlasan hati. Begitupun sebaliknya cinta seorang anak kepada orang tuanya. Ia adalah ikatan yang dengan sendirinya terasa dalam dada, tanpa menghadirkannya cinta telah tumbuh dengan karunia dan rahmat-Nya.
Berbeda dengan cinta yang tumbuh antara seseorang dengan sahabatnya. Ia perlu waktu yang tidak sebentar. Perlu tahapan-tahapan untuk mencapai pada satu titik yang bisa menumbuhkan cinta. Dimulai dari saling mengenal, adanya kesamaan dalam profesi misalnya, kesamaan dalam visi dan misi yang semuanya menyebabkan adanya interaksi secara intens. Dari situ akan timbul perasaan saling mengerti dan memahami satu sama lain, saling menasehati dan mengisi kekurangan. Berempati dalam duka, bergemberia disaat sahabat bahagia. Dari situ Allah menurunkan cinta-Nya hingga terpaut hati mereka dalam bingkai kasih-Nya.
Lalu bagaimana halnya cinta kita kepada-Nya, kepada Allah sang Khaliq yang paling berhak untuk dicinta? Karena cinta-Nya-lah kita bisa mencintai orang tua kita, saudara, sahabat dan sesama. Karena cinta agung-Nya bersatulah dua insan berbeda yang bisa mencetak generasi unggul, generasi Rabbani yang akan menjunjung tinggi Dienullah di muka bumi ini.
Sahabat, ada baiknya kita sejenak menengok hati kita, seberapa besarkah kita mencintai-Nya, benarkah cinta ini, benarkah rindu ini, ataukah cinta kita palsu belaka? Apakah rindu kita hanya fatamorgana? Kenapa bisa seperti ini? Atau jangan-jangan karena kita belum begitu mengenal-Nya, mengenal dengan sesungguhnya.
Kita mengaku cinta kepada-Nya, namun disatu sisi malas beramal yang menhantarkan cinta kita kepada-Nya. Berkumpul dengan orang-orang yang rusak imannya. Mengaku rindu tetapi sedikit bekal yang dikumpulkan untuk dibawa pulang kepada-Nya, jarang menikmati hidangan ilmu-Nya.
Tahunya Allah Maha Pengasih, Maha Penyanyang, Maha Pengampun, Maha Lembut, Tahu Dia Dzat Yang Maha Pemberi balasan berupa pahala, namun melupakan bahwa Allah juga Maha keras siksa-Nya, Maha Dahsyat azabnya, Maha cepat hisab-Nya, sehingga tak jarang kita bergelimang dengan dosa karena kita hanya mengenal kebaikan-kebaikan-Nya berharap Allah akan dengan mudah mengampuninya yang kecanduan berbuat maksiat. Kita lupa bahwa Allah berhak menyiksa bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Sahabat, seyogianya kita mengenal Allah dari kedua sisinya, dalam arti mengenal bahwa Allah berhak mengampuni setiap dosa hamba-Nya, namun Dia juga berkuasa untuk menyiksa hamba bagi yang dikehendaki-Nya. Dengan rahmat-Nya Allah ampuni dosa hamba-Nya, namun dia juga Maha adil yang memberikan ganjaran sesuai dengan amal perbuatan manusia.
Sahabat, jangan pernah berhenti untuk terus belajar mengenal-Nya, memohon cinta dan kasih sayang-Nya. Kelezatan tiada tara ketika kita telah meraih cinta-Nya. Kenikmatan beribadah dalam totalitas penghambaan kepada-Nya serta teraih kenikmatan memandang wajah-Nya kelak.
Semoga Allah menolong kita semua untuk tetap istiqomah meniti jalan perjuangan ini.
Amin ya Rabbal ‘alamiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum….
Apa kabar sahabat, semoga cintamu dan cintaku kian bersemi indah mewangi menebar aroma kebaikan, semerbak dalam totalitas penghambaan kepada-Nya.
Sahabat, cinta tak akan ada manakala kita belum mengenal, sayang tak kan terasa ketika kita tak saling sapa. Ada banyak cinta dalam kehidupan kita. Cinta kepada orang tua, cinta kepada saudara, cinta kepada sahabat, dan berbagai cinta dengan segala macam ekspresinya.
Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah alamiah yang merupakan anugerah dari Rabb yang Maha Mencinta. Cinta itu mengalir dari sanubari, dari keikhlasan hati. Begitupun sebaliknya cinta seorang anak kepada orang tuanya. Ia adalah ikatan yang dengan sendirinya terasa dalam dada, tanpa menghadirkannya cinta telah tumbuh dengan karunia dan rahmat-Nya.
Berbeda dengan cinta yang tumbuh antara seseorang dengan sahabatnya. Ia perlu waktu yang tidak sebentar. Perlu tahapan-tahapan untuk mencapai pada satu titik yang bisa menumbuhkan cinta. Dimulai dari saling mengenal, adanya kesamaan dalam profesi misalnya, kesamaan dalam visi dan misi yang semuanya menyebabkan adanya interaksi secara intens. Dari situ akan timbul perasaan saling mengerti dan memahami satu sama lain, saling menasehati dan mengisi kekurangan. Berempati dalam duka, bergemberia disaat sahabat bahagia. Dari situ Allah menurunkan cinta-Nya hingga terpaut hati mereka dalam bingkai kasih-Nya.
Lalu bagaimana halnya cinta kita kepada-Nya, kepada Allah sang Khaliq yang paling berhak untuk dicinta? Karena cinta-Nya-lah kita bisa mencintai orang tua kita, saudara, sahabat dan sesama. Karena cinta agung-Nya bersatulah dua insan berbeda yang bisa mencetak generasi unggul, generasi Rabbani yang akan menjunjung tinggi Dienullah di muka bumi ini.
Sahabat, ada baiknya kita sejenak menengok hati kita, seberapa besarkah kita mencintai-Nya, benarkah cinta ini, benarkah rindu ini, ataukah cinta kita palsu belaka? Apakah rindu kita hanya fatamorgana? Kenapa bisa seperti ini? Atau jangan-jangan karena kita belum begitu mengenal-Nya, mengenal dengan sesungguhnya.
Kita mengaku cinta kepada-Nya, namun disatu sisi malas beramal yang menhantarkan cinta kita kepada-Nya. Berkumpul dengan orang-orang yang rusak imannya. Mengaku rindu tetapi sedikit bekal yang dikumpulkan untuk dibawa pulang kepada-Nya, jarang menikmati hidangan ilmu-Nya.
Tahunya Allah Maha Pengasih, Maha Penyanyang, Maha Pengampun, Maha Lembut, Tahu Dia Dzat Yang Maha Pemberi balasan berupa pahala, namun melupakan bahwa Allah juga Maha keras siksa-Nya, Maha Dahsyat azabnya, Maha cepat hisab-Nya, sehingga tak jarang kita bergelimang dengan dosa karena kita hanya mengenal kebaikan-kebaikan-Nya berharap Allah akan dengan mudah mengampuninya yang kecanduan berbuat maksiat. Kita lupa bahwa Allah berhak menyiksa bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Sahabat, seyogianya kita mengenal Allah dari kedua sisinya, dalam arti mengenal bahwa Allah berhak mengampuni setiap dosa hamba-Nya, namun Dia juga berkuasa untuk menyiksa hamba bagi yang dikehendaki-Nya. Dengan rahmat-Nya Allah ampuni dosa hamba-Nya, namun dia juga Maha adil yang memberikan ganjaran sesuai dengan amal perbuatan manusia.
Sahabat, jangan pernah berhenti untuk terus belajar mengenal-Nya, memohon cinta dan kasih sayang-Nya. Kelezatan tiada tara ketika kita telah meraih cinta-Nya. Kenikmatan beribadah dalam totalitas penghambaan kepada-Nya serta teraih kenikmatan memandang wajah-Nya kelak.
Semoga Allah menolong kita semua untuk tetap istiqomah meniti jalan perjuangan ini.
Amin ya Rabbal ‘alamiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum….
Jumat, 26 Februari 2010
Cinta dan Rindu Pada-Nya
Assalamu’alaikum warhamatullahi wabarakatuh.
Apa kabar sahabat, semoga rahmat dan cinta Allah senantiasa meyelimuti hidup kita. Salam serta shalawat semoga tetap atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan sahabat beliau.
“Tiada yang bisa mengalahkan hawa nafsu kecuali kencintaan kepada Allah yang menggetarkan hati dan rasa rindu kepada-Nya hingga membuat kita merana.”
Sahabat, begitulah kira-kira kata Ibnu Athailah, semoga ridha Allah atas beliau. Ketika dada terasa sempit karena banyaknya dosa, hati serasa kelam dengan berbagai maksiat yang terlanjur melanda, seolah diri telah dikuasai hawa nafsu.
Betapa sulit rasanya melepaskan dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang telah dilakukan bertahun-tahun dalam sekejap. Perlu waktu untuk merubahnya, perlu perjuangan keras untuk melawannya dan berusaha menghapus jeratannya sampai ke akar-akarnya, hanya dengan pertolongan Allah-lah semua menjadi niscaya.
Sahabat, hanya kecintaan kepada Allah-lah yang akan mengalahkan segalanya. Hanya kerinduan kepada-Nya yang membuat kita meninggalkan segala hal yang membuat kita jauh dari-Nya.
Namun bagaimanakah keadaannya? Bagaimana cinta kita kepada-Nya, seberapa beratkah rindu ini kepada-Nya. Sampai taraf yang mana cinta kita, seberapa kadar kerinduan kita kepada-Nya, apakah sudah cukup untuk mengalahkan hawa nafsu yang mendera?
Sahabat, cinta ini tak kan bisa tumbuh dalam hati ketika ternodai oleh cinta kepada selain-Nya. Rindu ini tak kan pernah berbunga jika hati ini masih penuh dengan dosa.
Ya Rabb, ajari kami dengan ilmu-Mu untuk bisa mencintai-Mu sepenuh hatiku, meski ia rapuh, kuatkanlah dengan rahmat-Mu. Ya Allah, tanamkanlah rindu dihatiku, rindu akan perjumpaan dengan-Mu. Ya Allah, kokohkan cintaku dengan keagungan cinta-Mu, tumbuhkanlah rindu ini dengan kasih sayang-Mu
Amin ya Rabbal’alamiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Diposting juga ke :
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Apa kabar sahabat, semoga rahmat dan cinta Allah senantiasa meyelimuti hidup kita. Salam serta shalawat semoga tetap atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan sahabat beliau.
“Tiada yang bisa mengalahkan hawa nafsu kecuali kencintaan kepada Allah yang menggetarkan hati dan rasa rindu kepada-Nya hingga membuat kita merana.”
Sahabat, begitulah kira-kira kata Ibnu Athailah, semoga ridha Allah atas beliau. Ketika dada terasa sempit karena banyaknya dosa, hati serasa kelam dengan berbagai maksiat yang terlanjur melanda, seolah diri telah dikuasai hawa nafsu.
Betapa sulit rasanya melepaskan dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang telah dilakukan bertahun-tahun dalam sekejap. Perlu waktu untuk merubahnya, perlu perjuangan keras untuk melawannya dan berusaha menghapus jeratannya sampai ke akar-akarnya, hanya dengan pertolongan Allah-lah semua menjadi niscaya.
Sahabat, hanya kecintaan kepada Allah-lah yang akan mengalahkan segalanya. Hanya kerinduan kepada-Nya yang membuat kita meninggalkan segala hal yang membuat kita jauh dari-Nya.
Namun bagaimanakah keadaannya? Bagaimana cinta kita kepada-Nya, seberapa beratkah rindu ini kepada-Nya. Sampai taraf yang mana cinta kita, seberapa kadar kerinduan kita kepada-Nya, apakah sudah cukup untuk mengalahkan hawa nafsu yang mendera?
Sahabat, cinta ini tak kan bisa tumbuh dalam hati ketika ternodai oleh cinta kepada selain-Nya. Rindu ini tak kan pernah berbunga jika hati ini masih penuh dengan dosa.
Ya Rabb, ajari kami dengan ilmu-Mu untuk bisa mencintai-Mu sepenuh hatiku, meski ia rapuh, kuatkanlah dengan rahmat-Mu. Ya Allah, tanamkanlah rindu dihatiku, rindu akan perjumpaan dengan-Mu. Ya Allah, kokohkan cintaku dengan keagungan cinta-Mu, tumbuhkanlah rindu ini dengan kasih sayang-Mu
Amin ya Rabbal’alamiin.
^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Diposting juga ke :
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Rabu, 24 Februari 2010
Dimanakah Semangat itu?
Assalamu’alaikum….
Apa kabar sahabat pena? Semoga tetap semangat bermain dengan penamu, menuangkan segala rasamu.
Sahabat, tolong kirimkan gelora semangatmu kepadaku. Aku di sini terdiam sendiri tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Ingin kutulis rangkaian kata namun hati tak bisa disapa. Tangan dan pena begitu bersemangat ingin menuliskan berjuta kata, namun apa daya hati dan pikiranku lagi susah diajak bekerjasama.
Dimanakah semangat itu, yang sempat hadir menghampiriku dulu. Seiring berlalunya waktu seakan berangsur-angsur meninggalkanku tanpa sadarku. Kadang terlintas dalam pikirku untuk berhenti sejenak mengumpulkan sisa-sisa semangat yang ada, membangun kembali pundi-pundi gelora. Aku ingin belajar, bangkit kembali, dan untuk itu aku butuh uluran tanganmu, aliran semangatmu.
Ya Allah ya Rabb, kupasrahkan diri ini kepada-Mu, tunjukkanlah kami ke jalan-Mu yang lurus. Ya Allah, dalam bimbang ku memohon petunjuk-Mu, dalam gelap ku mohon nyala cahaya-Mu, dalam khilaf ku memohon maaf-Mu, dalam gelisah kuingat nama-Mu. Ya Allah bimbinglah kami selalu. Amin ya Rabbal’alamiin.
Sahabat, maafkan jika rangkaian kataku mengusik ketenangan hatimu.
Wassalamu’alaikum….
Apa kabar sahabat pena? Semoga tetap semangat bermain dengan penamu, menuangkan segala rasamu.
Sahabat, tolong kirimkan gelora semangatmu kepadaku. Aku di sini terdiam sendiri tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Ingin kutulis rangkaian kata namun hati tak bisa disapa. Tangan dan pena begitu bersemangat ingin menuliskan berjuta kata, namun apa daya hati dan pikiranku lagi susah diajak bekerjasama.
Dimanakah semangat itu, yang sempat hadir menghampiriku dulu. Seiring berlalunya waktu seakan berangsur-angsur meninggalkanku tanpa sadarku. Kadang terlintas dalam pikirku untuk berhenti sejenak mengumpulkan sisa-sisa semangat yang ada, membangun kembali pundi-pundi gelora. Aku ingin belajar, bangkit kembali, dan untuk itu aku butuh uluran tanganmu, aliran semangatmu.
Ya Allah ya Rabb, kupasrahkan diri ini kepada-Mu, tunjukkanlah kami ke jalan-Mu yang lurus. Ya Allah, dalam bimbang ku memohon petunjuk-Mu, dalam gelap ku mohon nyala cahaya-Mu, dalam khilaf ku memohon maaf-Mu, dalam gelisah kuingat nama-Mu. Ya Allah bimbinglah kami selalu. Amin ya Rabbal’alamiin.
Sahabat, maafkan jika rangkaian kataku mengusik ketenangan hatimu.
Wassalamu’alaikum….
Kamis, 18 Februari 2010
TAK PANTAS MENGAJARI
Assalamu’alaikum….
Terangkai bait-bait kata, semoga bisa diambil ibrahnya.
TAK PANTAS MENGAJARI
Ya Allah, ampuni aku yang lemah ini
Ampuni aku yang tiada berdaya
Penuh dengan keangkuhan
Berselendang kesombongan
Kadang lisan terlalu pandai menyulam kata
Membalut hati yang penuh dusta
Kepura-puraan menghiasi dindingnya
Munafikkah, terlenakah diriku
Jangan- jangan aku hanya tertipu oleh nafsu
Begitu mudah lidah mengucap
Melontarkan berbagai nasehat
Begitu banyak peringatan kuberikan
Namun melupakan diriku yang butuh peringatan
Ya Allah, rasanya tak pantas mengajari
Tak layak diri ini menasehati
Mengingat begitu banyak kekurangan diri
Tak berhak lisan ini berkata
Ketika hati mengingkarinya
Ketika ia lalai untuk mengamalkannya
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perkataan yang tidak bisa hamba kerjakan. Dari ilmu yang tidak bisa hamba amalkan, dari dosa yang tak terampunkan, dari salah yang tiada Kau maafkan dan aku berlindung kepada-Mu dari doa yang tidak Engkau kabulkan. Ya Allah aku juga berlindung kepada-Mu dari akibat buruk atas perbuatan maksiat yang terlanjur kuperbuat.
Amiin ya Rabbal ‘alamiin…
^^Berawal Dari Kata Semoga Menjadi Karya^^
Wassalamu’alaikum….
Terangkai bait-bait kata, semoga bisa diambil ibrahnya.
TAK PANTAS MENGAJARI
Ya Allah, ampuni aku yang lemah ini
Ampuni aku yang tiada berdaya
Penuh dengan keangkuhan
Berselendang kesombongan
Kadang lisan terlalu pandai menyulam kata
Membalut hati yang penuh dusta
Kepura-puraan menghiasi dindingnya
Munafikkah, terlenakah diriku
Jangan- jangan aku hanya tertipu oleh nafsu
Begitu mudah lidah mengucap
Melontarkan berbagai nasehat
Begitu banyak peringatan kuberikan
Namun melupakan diriku yang butuh peringatan
Ya Allah, rasanya tak pantas mengajari
Tak layak diri ini menasehati
Mengingat begitu banyak kekurangan diri
Tak berhak lisan ini berkata
Ketika hati mengingkarinya
Ketika ia lalai untuk mengamalkannya
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perkataan yang tidak bisa hamba kerjakan. Dari ilmu yang tidak bisa hamba amalkan, dari dosa yang tak terampunkan, dari salah yang tiada Kau maafkan dan aku berlindung kepada-Mu dari doa yang tidak Engkau kabulkan. Ya Allah aku juga berlindung kepada-Mu dari akibat buruk atas perbuatan maksiat yang terlanjur kuperbuat.
Amiin ya Rabbal ‘alamiin…
^^Berawal Dari Kata Semoga Menjadi Karya^^
Wassalamu’alaikum….
Minggu, 14 Februari 2010
Dalam Hisab Menjelang Tidurku
Assalamu’alaikum….
Apa kabar sahabat perangkai kata? Semoga tidak lelah menebar kebaikan, menebar aroma wangi keikhlasan. Semoga setiap langkah kaki perjuangan kita bernilai tinggi di sisi-Nya.
Sedikit rangkaian kata, semoga bisa diambil manfaatnya.
Dalam renung di saat malam sebelum tidurku, saat-saat setelah sejenak melepas lelah setelah seharian beraktivitas menjalani kewajiban sebagai anak manusia, seolah tergambar bahwa sebagian besar waktuku seharian selama dua puluh empat jam hanya untuk mencari penghidupan di dunia yang fana. Semantara waktu untuk akhiratku tidaklah seberapa lama. Saat malam pun belum bisa maksimal memanfaatkannya. Sering ia lewat begitu saja tanpa satu rakaat pun ku tegakkan, tanpa satu ayat pun kulantunkan. Ya Rabb, banyak waktu yang terlewat sedang usiaku kian merambat. Ya Allah, berikanlah hamba-Mu Rahmat.
Hanyalah kewajiban yang aku lakukan di sela-sela kesibukan. Kadang memenuhi panggilan-Mu tepat waktu namun lebih sering aku tenggelam dalam kesibukanku. Lalu bekal apa yang bisa ku dapat dalam keseharianku sementara yang kulakukan adalah merupakan kewajiban. Shalat sunnahpun jarang, apalagi untuk bersedekah, hampir tidak pernah. Lalu bekal apa yang bisa aku raih dalam hariku ini. Ibarat amal wajib adalah modal, amalan sunnah adalah labanya, namun mengapa begitu berat meramaikan hari dengan yang sunnah..
Dalam sendiri sebelum rehat, ku menghisab diri apa saja yang telah ku lakukan hari ini. Bagaimana lisan ini, apa ada khilaf dalam kata hinggga ada hati yang terluka karenanya. Bagaimana mata ini, apa ada yang terzhalimi karena pandangan khianatnya. Bagaimana telinga ini, apa saja yang di dengarnya, apakah membawa manfaat atau mendatangkan laknat. Bagaimanakah pula dengan kaki ini, sempatkah ia melangkah kerumah-Nya, memenuhi panggilan-Nya. Bagaimana tubuh ini menjalani hari, apakah sesuai keredhaan-Nya.
Ya Rabb, Segala puji bagi-Mu atas kebaikan yang telah hamba lakukan pada hari ini. Sekecil apapun kebaikan yang hamba kerjakan maka dengan rahmat-Mu lipat gandakanlah pahalanya hingga menjadi bekalku untuk meraih keredhaan-Mu.
Ya Rabb, ampunilah segala perbuatan dosa yang hamba lakukan hari ini, baik dosa yang hamba sengaja maupun yang tidak hamba sengaja, dosa yang hamba ketahui maupun yang tidak hamba ketahui.
Ya Rabb, izinkanlah aku mencintai-Mu sepenuh hatiku, meski cintaku tak sesempurna cinta-Mu padaku. Bahkan untuk itu aku harus berjuang mengalahkan nafsu dan cintaku kepada selainmu di hatiku. Ya Allah ajari aku untuk mencintai-Mu.
Amin Ya Rabbal’alamiin.
^^Berawal Dari Kata Semoga Menjelma Menjadi Karya^^
Wassalamu’alaikum….
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Apa kabar sahabat perangkai kata? Semoga tidak lelah menebar kebaikan, menebar aroma wangi keikhlasan. Semoga setiap langkah kaki perjuangan kita bernilai tinggi di sisi-Nya.
Sedikit rangkaian kata, semoga bisa diambil manfaatnya.
Dalam renung di saat malam sebelum tidurku, saat-saat setelah sejenak melepas lelah setelah seharian beraktivitas menjalani kewajiban sebagai anak manusia, seolah tergambar bahwa sebagian besar waktuku seharian selama dua puluh empat jam hanya untuk mencari penghidupan di dunia yang fana. Semantara waktu untuk akhiratku tidaklah seberapa lama. Saat malam pun belum bisa maksimal memanfaatkannya. Sering ia lewat begitu saja tanpa satu rakaat pun ku tegakkan, tanpa satu ayat pun kulantunkan. Ya Rabb, banyak waktu yang terlewat sedang usiaku kian merambat. Ya Allah, berikanlah hamba-Mu Rahmat.
Hanyalah kewajiban yang aku lakukan di sela-sela kesibukan. Kadang memenuhi panggilan-Mu tepat waktu namun lebih sering aku tenggelam dalam kesibukanku. Lalu bekal apa yang bisa ku dapat dalam keseharianku sementara yang kulakukan adalah merupakan kewajiban. Shalat sunnahpun jarang, apalagi untuk bersedekah, hampir tidak pernah. Lalu bekal apa yang bisa aku raih dalam hariku ini. Ibarat amal wajib adalah modal, amalan sunnah adalah labanya, namun mengapa begitu berat meramaikan hari dengan yang sunnah..
Dalam sendiri sebelum rehat, ku menghisab diri apa saja yang telah ku lakukan hari ini. Bagaimana lisan ini, apa ada khilaf dalam kata hinggga ada hati yang terluka karenanya. Bagaimana mata ini, apa ada yang terzhalimi karena pandangan khianatnya. Bagaimana telinga ini, apa saja yang di dengarnya, apakah membawa manfaat atau mendatangkan laknat. Bagaimanakah pula dengan kaki ini, sempatkah ia melangkah kerumah-Nya, memenuhi panggilan-Nya. Bagaimana tubuh ini menjalani hari, apakah sesuai keredhaan-Nya.
Ya Rabb, Segala puji bagi-Mu atas kebaikan yang telah hamba lakukan pada hari ini. Sekecil apapun kebaikan yang hamba kerjakan maka dengan rahmat-Mu lipat gandakanlah pahalanya hingga menjadi bekalku untuk meraih keredhaan-Mu.
Ya Rabb, ampunilah segala perbuatan dosa yang hamba lakukan hari ini, baik dosa yang hamba sengaja maupun yang tidak hamba sengaja, dosa yang hamba ketahui maupun yang tidak hamba ketahui.
Ya Rabb, izinkanlah aku mencintai-Mu sepenuh hatiku, meski cintaku tak sesempurna cinta-Mu padaku. Bahkan untuk itu aku harus berjuang mengalahkan nafsu dan cintaku kepada selainmu di hatiku. Ya Allah ajari aku untuk mencintai-Mu.
Amin Ya Rabbal’alamiin.
^^Berawal Dari Kata Semoga Menjelma Menjadi Karya^^
Wassalamu’alaikum….
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Selasa, 09 Februari 2010
SABAR, TAWAKAL, IKHLAS
SABAR, TAWAKAL, IKHLAS
Assalamu’alaikum…
Apa kabar sahabat? Semoga tetap sabar menebar kebaikan, tawakal setelah usaha yang maksimal, serta ikhlas menerima pembagian dari-Nya.
Sabar, tawakal dan ikhlas. Ketiga kata tersebut mungkin sangat mudah untuk kita ucapkan. Banyak orang mengaku telah bersabar, merasa telah pasrah dalam tawakal, mengaku ikhlas menerima ketentuan-Nya, namun kadang dalam hatinya masih saja ada sesuatu yang mengganjal.
Pada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari ketiga hal tersebut (sabar, tawakal, ikhlas) tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain. Ketiganya seolah menjadi satu-kesatuan yang saling melengkapi. Ketiadaan pada salah satunya akan menyebabkan ketidaksempurnaan pada hasil akhirnya.
Sebagai contoh misalnya, seorang pemuda yang telah cukup usia ingin segera mendapatkan calon bidadari yang didambanya. Bidadari yang akan mengisi setiap ruang hatinya, menjadi teman setia dalam mengarungi bahtera hidup demi menggapai keredhaan-Nya. Tentunya ia harus mempertebal kesabaran dalam berikhtiar, menjalani prosesnya juga dengan sabar. Sabar dalam melakukan proses ta’aruf, sabar ketika harus menyampaikan kelebihan dan kekurangan kepada seseorang yang masih dianggap asing dalam hidupnya, pun sabar ketika dalam proses ta’aruf itu tidak berlanjut ke jenjang berikutnya (pernikahan). Tambah lagi sabarnya ketika cinta yang kita kirimkan dikembalikan alias ditolak. Anggaplah dia memang bukan yang terbaik untuk kita.
Sabar dalam ikhtiar terasa hampa tanpa diiringi dengan doa. Sudah menjadi fitrah bahwa manusia akan selalu membutuhkan uluran tangan, pertolongan dari Rabb-nya. Oleh karena itu, doa merupakan senjata yang ampuh untuk menemani dalam ikhtiar.
Sahabat, ada kalanya kita berada pada puncak kondisi dimana kita merasa begitu lelah dalam menjalani proses hidup yang kita jalani. Seakan jalan telah tertutup, segala macam usaha telah ditempuh, namun masih belum juga menemukan titik terang tanda-tanda keberhasilan.
Pada saat itulah tawakal menjadi suatu keniscayaan. Kepasrahan total kepada Allah Subhanahu wata’ala. Pasrah sepasrah-pasrahnya kepada Dzat Yang Maha Pemberi keputusan, Dzat Yang Maha Menolong dan Dzat Yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Dalam masa tawakal ini juga harus tetap berdoa dengan sungguh-sungguh memohon pertolongan kepada-Nya, menengadahkan tangan di depan pintu gerbang rahmat-Nya dengan mengagungkan asma-Nya, kemudian tetap sabar dalam menunggu pertolongan-Nya.
Sahabat, kita tidak pernah tahu kapan Allah memberikan pertolongan-Nya. Allah punya rencana terbaik untuk kita. Pertolongan-Nya akan datang dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dan ketika pertolongan itu tiba, hendaklah kita ridha dengan apa yang menjadi keputusan-Nya.
Sudah sepatutnya kita ikhlas dengan segala pembagian dari-Nya. Begitu juga halnya dengan seorang pemuda atau pemudi yang telah dipertemukan dengan belahan jiwanya. Terimalah calon suami atau istri dengan lapang dada penuh kerelaan karena Allah semata. Jadikan ia sebagai anugerah terindah yang telah Allah pilihkan untuk kita. Tidak usah mengejar atau menunggu seseorang, atau sesuatu yang memang bukan menjadi bagian untuk kita, karena Allah Subhanahu wata’ala lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
Sahabat, marilah sama-sama kita belajar untuk ikhlas dalam segala hal. Ikhlas menerima qodha dan qadar-Nya, ikhlas dengan apa yang menjadi garis ketentuan-Nya, ikhlas dengan bagaimana pun kondidi kita, kesehatan, kondisi ekonomi, postur tubuh, corak suara dan lain sebagainya. Ikhlaskan semuanya demi Allah yang telah menciptakan kita dengan penciptaan yang paling sempurna.
Sahabat…, istiqomahlah dalam sabar, tawakal, dan ikhlas.
Wallahu a’lam.
Note :
Terima kasih untuk seorang sahabat yang telah barbagi inspirasi, hingga tertoreh rangkaian kata ini. Ana ukhibbuka Fillah. Jazakallahu khaiir.
^^BERAWAL DARI KATA SEMOGA MENJELMA MENJADI KARYA^^
Wassalamu’alaikum…
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Assalamu’alaikum…
Apa kabar sahabat? Semoga tetap sabar menebar kebaikan, tawakal setelah usaha yang maksimal, serta ikhlas menerima pembagian dari-Nya.
Sabar, tawakal dan ikhlas. Ketiga kata tersebut mungkin sangat mudah untuk kita ucapkan. Banyak orang mengaku telah bersabar, merasa telah pasrah dalam tawakal, mengaku ikhlas menerima ketentuan-Nya, namun kadang dalam hatinya masih saja ada sesuatu yang mengganjal.
Pada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari ketiga hal tersebut (sabar, tawakal, ikhlas) tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain. Ketiganya seolah menjadi satu-kesatuan yang saling melengkapi. Ketiadaan pada salah satunya akan menyebabkan ketidaksempurnaan pada hasil akhirnya.
Sebagai contoh misalnya, seorang pemuda yang telah cukup usia ingin segera mendapatkan calon bidadari yang didambanya. Bidadari yang akan mengisi setiap ruang hatinya, menjadi teman setia dalam mengarungi bahtera hidup demi menggapai keredhaan-Nya. Tentunya ia harus mempertebal kesabaran dalam berikhtiar, menjalani prosesnya juga dengan sabar. Sabar dalam melakukan proses ta’aruf, sabar ketika harus menyampaikan kelebihan dan kekurangan kepada seseorang yang masih dianggap asing dalam hidupnya, pun sabar ketika dalam proses ta’aruf itu tidak berlanjut ke jenjang berikutnya (pernikahan). Tambah lagi sabarnya ketika cinta yang kita kirimkan dikembalikan alias ditolak. Anggaplah dia memang bukan yang terbaik untuk kita.
Sabar dalam ikhtiar terasa hampa tanpa diiringi dengan doa. Sudah menjadi fitrah bahwa manusia akan selalu membutuhkan uluran tangan, pertolongan dari Rabb-nya. Oleh karena itu, doa merupakan senjata yang ampuh untuk menemani dalam ikhtiar.
Sahabat, ada kalanya kita berada pada puncak kondisi dimana kita merasa begitu lelah dalam menjalani proses hidup yang kita jalani. Seakan jalan telah tertutup, segala macam usaha telah ditempuh, namun masih belum juga menemukan titik terang tanda-tanda keberhasilan.
Pada saat itulah tawakal menjadi suatu keniscayaan. Kepasrahan total kepada Allah Subhanahu wata’ala. Pasrah sepasrah-pasrahnya kepada Dzat Yang Maha Pemberi keputusan, Dzat Yang Maha Menolong dan Dzat Yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Dalam masa tawakal ini juga harus tetap berdoa dengan sungguh-sungguh memohon pertolongan kepada-Nya, menengadahkan tangan di depan pintu gerbang rahmat-Nya dengan mengagungkan asma-Nya, kemudian tetap sabar dalam menunggu pertolongan-Nya.
Sahabat, kita tidak pernah tahu kapan Allah memberikan pertolongan-Nya. Allah punya rencana terbaik untuk kita. Pertolongan-Nya akan datang dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dan ketika pertolongan itu tiba, hendaklah kita ridha dengan apa yang menjadi keputusan-Nya.
Sudah sepatutnya kita ikhlas dengan segala pembagian dari-Nya. Begitu juga halnya dengan seorang pemuda atau pemudi yang telah dipertemukan dengan belahan jiwanya. Terimalah calon suami atau istri dengan lapang dada penuh kerelaan karena Allah semata. Jadikan ia sebagai anugerah terindah yang telah Allah pilihkan untuk kita. Tidak usah mengejar atau menunggu seseorang, atau sesuatu yang memang bukan menjadi bagian untuk kita, karena Allah Subhanahu wata’ala lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
Sahabat, marilah sama-sama kita belajar untuk ikhlas dalam segala hal. Ikhlas menerima qodha dan qadar-Nya, ikhlas dengan apa yang menjadi garis ketentuan-Nya, ikhlas dengan bagaimana pun kondidi kita, kesehatan, kondisi ekonomi, postur tubuh, corak suara dan lain sebagainya. Ikhlaskan semuanya demi Allah yang telah menciptakan kita dengan penciptaan yang paling sempurna.
Sahabat…, istiqomahlah dalam sabar, tawakal, dan ikhlas.
Wallahu a’lam.
Note :
Terima kasih untuk seorang sahabat yang telah barbagi inspirasi, hingga tertoreh rangkaian kata ini. Ana ukhibbuka Fillah. Jazakallahu khaiir.
^^BERAWAL DARI KATA SEMOGA MENJELMA MENJADI KARYA^^
Wassalamu’alaikum…
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Minggu, 07 Februari 2010
Cinta-Mu Padaku
Cinta-Mu Padaku
Kau mencintaiku
melebihi cinta ibu kepada anaknya
melebihi induk terhadap inangnya
melebihi suami terhadap istrinya
Kau berikan apa yang kubutuhkan
tanpa kuminta
Kau tutupi kekuranganku dengan rahmat-Mu
adakan tabir selimut aibku dengan kasih-Mu
Betapa banyak kesempatan yang Kau berikan
Betapa sering aku melanggar
Betapa Kau limpahkan kasih sayang
Namun aku balas dengan kemaksiatan
Cinta yang Kau ulurkan
Aku balas dengan kedurhakaan
Sayang yang Kau limpahkan
Aku sambut dengan kekhilafan
Ya Rabb…
Masih pantaskah mengharap cinta-Mu
Masih berhakkah menanti limpahan kasih sayang-Mu
Sementara banyak yang ku sia-siakan
Banyak yang tak kuhiraukan
Ya Rabb….
Di titik nadir terendahku
Ku ingat nama-Mu
Dalam ruang tergelapku
datangkanlah setitik cahaya petunjuk-Mu
Dalam remuk jiwaku
sudilah Engkau merengkuhku
dalam hangat peluk kasih-Mu
Ya Rabb…
Sehina apapun diriku
Angkatlah dalam pangkuan Rahmat-Mu
Amin.
^^BERAWAL DARI KATA SEMOGA MENJELMA MENJADI KARYA^^
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Kau mencintaiku
melebihi cinta ibu kepada anaknya
melebihi induk terhadap inangnya
melebihi suami terhadap istrinya
Kau berikan apa yang kubutuhkan
tanpa kuminta
Kau tutupi kekuranganku dengan rahmat-Mu
adakan tabir selimut aibku dengan kasih-Mu
Betapa banyak kesempatan yang Kau berikan
Betapa sering aku melanggar
Betapa Kau limpahkan kasih sayang
Namun aku balas dengan kemaksiatan
Cinta yang Kau ulurkan
Aku balas dengan kedurhakaan
Sayang yang Kau limpahkan
Aku sambut dengan kekhilafan
Ya Rabb…
Masih pantaskah mengharap cinta-Mu
Masih berhakkah menanti limpahan kasih sayang-Mu
Sementara banyak yang ku sia-siakan
Banyak yang tak kuhiraukan
Ya Rabb….
Di titik nadir terendahku
Ku ingat nama-Mu
Dalam ruang tergelapku
datangkanlah setitik cahaya petunjuk-Mu
Dalam remuk jiwaku
sudilah Engkau merengkuhku
dalam hangat peluk kasih-Mu
Ya Rabb…
Sehina apapun diriku
Angkatlah dalam pangkuan Rahmat-Mu
Amin.
^^BERAWAL DARI KATA SEMOGA MENJELMA MENJADI KARYA^^
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Rabu, 03 Februari 2010
Subhanallah...
Assalamu’alaikum…
Apa kabar sahabat pena? Semoga tak lelah menghamba, menjalankan titah Sang Khaliq Sang Pencipta Alam semesta.
Tiada satu makhluq pun baik di langit maupun di bumi kecuali semua bertasbih kepada-Nya. Tunduk, pasrah dalam gengggaman kuasa-Nya.
Ku saksikan burung bernyanyi di pagi hari, menyambut mentari yang mulai menampakkan cahaya indahnya, memberi sinar harapan baru bagi segenap penduduk bumi.
Angin sepoi-sepoi memberikan aroma kesegaran yang luar biasa yang mampu menggerakkan seluruh tulang-tulangku, bangkit dan berpacu untuk menggapai impianku.
Langit yang cerah seolah ikut serta mendukung langkahku menyusuri jalan perjuangan menggapai ridha-Mu.
Pegunungan yang menghijau di depanku seolah ikut menyejukkan pandangan mata, menentramkan jiwa, semakin tertunduk hati ini menyaksikan keagungan-Nya.
Subhanallah….
Hanya itu yang bisa aku ucapkan, betapa Maha Indah Allah menghias kerajaan bumi-Nya. Tiada satu cacat pun dalam penciptaan-Nya. Dengan kuasa-Nya Allah menjadikan semua makhluk bertasbih sesuai dengan cara yang diajarkan oleh-Nya.
Manusia hanyalah salah satu dari bermilyar-milyar ciptaan-Nya di alam semesta. Namun kadang manusia terlalu membangga-banggakan kekuatanya yang belum seberapa.
Ya Allah ampuni hamba, keterbatasan ilmu membuatku tak mampu berkata, mengurai betapa sempurnanya Kau mencipta segalanya. Tak mampu menguraikan kalimat-kalimat indah ungkapan jiwa. Karena sesungguhnya jiwa ini pun begitu gersang yang haus akan siraman keimanan. Hanya engkau sendirilah Yang Maha Kuasa untuk menguraikannya.
Ya Allah bimbinglah kami untuk bisa selalu bertasbih, mengikuti gerak fitrah sesuai apa yang menjadi harapan dan kehendak-Mu.
Amin ya Rabbal ‘alamiin.
^^BERAWAL DARI KATA SEMOGA MENJELMA MENJADI KARYA^^
Wassalamu'alaikum...
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Apa kabar sahabat pena? Semoga tak lelah menghamba, menjalankan titah Sang Khaliq Sang Pencipta Alam semesta.
Tiada satu makhluq pun baik di langit maupun di bumi kecuali semua bertasbih kepada-Nya. Tunduk, pasrah dalam gengggaman kuasa-Nya.
Ku saksikan burung bernyanyi di pagi hari, menyambut mentari yang mulai menampakkan cahaya indahnya, memberi sinar harapan baru bagi segenap penduduk bumi.
Angin sepoi-sepoi memberikan aroma kesegaran yang luar biasa yang mampu menggerakkan seluruh tulang-tulangku, bangkit dan berpacu untuk menggapai impianku.
Langit yang cerah seolah ikut serta mendukung langkahku menyusuri jalan perjuangan menggapai ridha-Mu.
Pegunungan yang menghijau di depanku seolah ikut menyejukkan pandangan mata, menentramkan jiwa, semakin tertunduk hati ini menyaksikan keagungan-Nya.
Subhanallah….
Hanya itu yang bisa aku ucapkan, betapa Maha Indah Allah menghias kerajaan bumi-Nya. Tiada satu cacat pun dalam penciptaan-Nya. Dengan kuasa-Nya Allah menjadikan semua makhluk bertasbih sesuai dengan cara yang diajarkan oleh-Nya.
Manusia hanyalah salah satu dari bermilyar-milyar ciptaan-Nya di alam semesta. Namun kadang manusia terlalu membangga-banggakan kekuatanya yang belum seberapa.
Ya Allah ampuni hamba, keterbatasan ilmu membuatku tak mampu berkata, mengurai betapa sempurnanya Kau mencipta segalanya. Tak mampu menguraikan kalimat-kalimat indah ungkapan jiwa. Karena sesungguhnya jiwa ini pun begitu gersang yang haus akan siraman keimanan. Hanya engkau sendirilah Yang Maha Kuasa untuk menguraikannya.
Ya Allah bimbinglah kami untuk bisa selalu bertasbih, mengikuti gerak fitrah sesuai apa yang menjadi harapan dan kehendak-Mu.
Amin ya Rabbal ‘alamiin.
^^BERAWAL DARI KATA SEMOGA MENJELMA MENJADI KARYA^^
Wassalamu'alaikum...
http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)
