Loading...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kami ucapkan selamat datang di forum para Perangkai kata, semoga kita bisa sama-sama belajar menuangkan kata untuk kita rangkai menjadi karya. Bukan sembarang karya, tapi semoga menjelma menjadi karya yang luar biasa demi menggapai ridha-Nya.

Blog ini sekaligus sebagai arsip dari rangkaian kata yang saya posting di sebuah group yang saya kelola di jejaring sosial Facebook. Bagi temen-temen yang belum sempat membaca, disini kami sajikan yang lebih lengkap.

Selamat menikmati sajian ilmu dari kami... saran dan kritik selalu dinanti.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam,
Ibnu Abdul Rochman


Selasa, 17 Mei 2011

TIDAK AKAN BERKURANG NILAI KITA

Assalamu'alaikum...

Apa kabar sahabat, semoga iman senantiasa melekat di dalam dada, tersemat dalam hati sanubari.
Catatan kecil dari note akunku, semoga lebih berkah di sini.

Sahabat, tidak usah bersedih ketika sapaan kita tak terbalas, ketika ketulusanmu tak dianggap.

Tak usah risau ketika salam tak terjawab, tidak perlu gelisah ketika cintanya tak sebesar cintamu.

Sahabat, tak perlu merasa terhina di saat kita diremehkan, ketika diabaikan.
Tak perlu bermuram durja ketika persahabatanmu kandas di tengah jalan.

Ketahuilah sahabatku.. Betapun uang yang terkotori oleh lumpur, terlipat, terinjak-injak sampai tak berbentuk akan tetap sama nilainya. Harganya tidak berkurang pada hakekatnya.

Begitupun kita sahabat..
Meskipun kita dihina, dicaci-maki, karena prinsip kebenaran yang kita pegang, tidak akan mengurangi nilai kita. Tidak akan berkurang nilai kita di mata Allah hanya karena fisik yang tidak sempurna.

Hinaan, cercaan malah akan membuat kita lebih kuat dan menjadikan kita lebih memperbaiki diri dari hari ke hari hingga nilai kita bertambah di mata Allah.

Sahabat, ketahuilah. Penilaian Allah yang menjadi harapan, bukan penilaian manusia.
Tetaplah dalam keimanan yang kokoh karena imanlah yang membuat nilai kita semakin meningkat di sisi Allah.

Tetaplah menjadi cahaya yang mampu menerangi lingkungan sekitar.
Tetaplah menjadi pelita ditengah gelapnya dunia.

Tetaplah ditempat perjuanganmu sahabatku..
^^Terus MERANGKAI KATA untuk menggapai ridha-Nya^^

Wassalamu'alaikum..

Diposting juga ke :

Senin, 09 Mei 2011

UNTUK SAUDARA FILLAH-KU

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apa kabar hari ini sahabat, semoga senantiasa semangat menjaga taat hingga iman kian meningkat.
Kutulis rangkaian kata untuk sahabat Saudara Fillah-ku di seberang sana, semoga ada hikmah tersembunyi di baliknya untuk kita semua..
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Untuk Saudara Fillah-ku

Adekku...
Aku belum lama mengenalmu
lewat dunia maya antum menyapaku
Antum bilang, salut dengan tulisanku
meski aku pun tidak tahu di bagian tulisan yang mana
hingga antum merasa begitu.

Adekku...
Terima kasih telah menyapaku
Mengulurkan tangan tanda persahabatan
Syukurku pada Rabb karena mengirimkanmu padaku

Adekku...
Maafkan aku
Apa yang terlihat diluar tak selalu mencerminkan apa yang di dalam Kebaikan yang menjelma itu hanya karena Allah masih berkenan menyelimutkan tabir-Nya.

Adekku...
Aku hanyalah manusia yang bersimbah dosa
Lebih sering lena akan gemerlapnya dunia
Aku tak sempurna sebagaimana Allah telah menciptaku dengan penuh cinta Namun, apalah kuasa kita
Ketika Sang Maha Sempurna telah berkehendak menentukan jalannya
Apapun bisa terjadi sesuai rencana-Nya

Adekku...
Allah-lah yang mengobarkan imanmu
hingga sampailah kobaran itu menghangatkan relung-relung hatiku
Bukan aku yang menarik hatimu
Tapi kelembutan hatimu lah yang menghantarkan kita bertemu dalam wadah bernama ukhuwah.
Kekuatan iman yang menjadi wasilah
dan dibalik itu semua ada Allah yg Maha Kuasa.

Adekku...
Apalah arti jarak memisah raga
Jika hati tetap tenang dalam ikatan
Ikatan yang berlandaskan kemurnian iman
Apalah arti jarak membentang antara Pekan-Papua jika ukhuwah telah tumbuh berbunga.

Adekku...
Sungguh, aku ingin segera bertemu
ingin sekali melepas rindu
tapi cukuplah hatiku dan hatimu tuk bertemu
Dalam setiap lirih doa yang terlantun
di setiap deretan kata yang terangkai
Semoga itu semua menjadi penghapus rindu yang menggebu hingga kelak Allah mewariskan surga-Nya untuk kita bertemu.

Adekku, akhina fillah..
Marilah kita bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan kita Dalam bingkai ukhuwah
Dia-lah yang menyatukan yang terpisah
Mengumpulkan yang terserak
Semua adalah ujian dan tarbiyah dari-Nya
Semoga dalam syukur meningkat ketaatan
Makin subur iman dan ketaqwaan.

Amiin yaa Rabbal 'alamiin..


Ternyata ada balasan rangkaian kata dari dia saudara fillah-ku
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Abang..
Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu
Tidak ada sesuatu apapun yang bisa aku berikan
Aku juga belum lama mengenalmu
Aku tidak tahu kenapa begitu "lancang" sok akrab denganmu
Jujur,tulisan-tulisanmu tak henti-hentinya ku baca
Dengan membaca tulisan itu aku merasa ada yg menasihatiku secara langsung yang begitu menyejukkan hati
Tak jarang aku pinjam kata-kata dalam tulisanmu untuk hanya sekedar menyapa dan sdikit bertaujih untuk temanku.
Bukan hanya aku saja yg salut sama tulisanmu’
Teman-temanku pun bilang, "bagus ya kata-katanya".
Mereka bilang begitu.

Abang…

Sekarang setelah kita akrab di dunia maya yang belum sempat bertemu,
Sangat bahagia sekali melebihkan diriku mendapatkan tulisanmu,
Aku merasa sdah memiliki abang sebagai saudara,
Berharap akan selalu mendapatkan kata-kata penyejuk hatiku,
dan Alhamdulillah sekarang memanglah suatu kenyataan..



Abang..
Aku takut, kita sekarang seperti sahabat yg sudah lama kenal
Aku khawatir suatu saat akan kehilangan sosok sepertimu.
Tak jarang aku pun seperti itu
awalnya sangat akrab,tetapi berujung pada sebuah pertikaian kecil atau hanya saling diam, setelah itu menjauh dan menghilang
Begitulah sifatku, mungkin egois memang
Padahal aku sadar, masing-masing kita juga punya kepentingan yg tak hanya memikirkan salah satu dari kita.

Aku sempat berdoa dan berkhayal seandainya kita dpertemukan-NYA
Aku tidak tahu mesti bertingkah seperti apa,
Mugkin karna sangat bahagianya.
Walaupun sampai sekarang rasa ingin bertemu itu tetap ada,
Tetapi itu tak mengapa,
Riau-Papua memang sangat jauh, tetapi abang sangat dekat di hati
Aku mrasa engkau itu lebih dekat dari pada saudaraku yg di sini


Semoga saja ukhuwah ini kekal sampai maut menjemput
Yah..! walaupun aku belum tahu apa arti bagaimana sebenarnya sahabat sejati itu.
Mungkin karna aku belum pernah mendapatkan dan merasakan hal itu

Abang…
Kau memang beda, selma ini,selama aku di lingkungan tarbiyah
Jarang orang yg mengatakan "ana ukhibbukum fillah"
Tapi abang...,tanpa aku mintapun dengan santai dan begitu cepatnya berkata "ana ukhibbukum fillah".
Walaupun kau belum tahu seperti apa aku ini
Yah, Aku pun hanya bisa membalas
ANA UKHIBBUKUM FILLAH

Afwan ya bang!!

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabrakatuh.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Begitulah sahabat, semoga Allah senantiasa emrekatkan ukhuwah kita, ukhuwah yang terselimuti oleh hangat Cinta-Nya.
Amiin yaa Rabbal’alamiin..
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

http://ibnuabdulrocman.blogspot.com/



Jumat, 06 Mei 2011

Belajar Memahaminya

Belajar Memahaminya

Assalamu'alaikum...

Apa kabar sahabat, semoga tetap sehat wal 'afiat.
Catatan kecil dari akun ku yang satunya, semoga bermanfaat.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakannya. Dia tak pernah bercerita. Ketegaran menghalanginya untuk sekedar berbagi rasa dengan sahabatnya. Bukan dia tidak percaya, namun begitulah, pantang baginya untuk mengeluh, mengutarakan permasalahannya kalau tidak sangat terpaksa. Dia hanya tidak ingin membuat sahabatnya ikut repot memikirkan apa yang menjadi ganjalan di hatinya."

Begitulah sahabat...
Kadang kita merasa kesulitan untuk memahami orang-orang di dekat kita. Entah kenapa meski telah sekian lama bersama, namun tak jarang kita belum bisa menyelami hatinya, memahami perasaannya. Kita hanya sebatas mengenalnya. Hanya mengetahui keadaan lahiriyahnya. Namun begitu jangan khawatir sahabat, semua ada prosesnya.

Sahabat, tidak mudah memang membina suatu hubungan. Perlu adanya tahapan-tahapan yang harus dilalui.
Yang pertama yaitu ta'aruf atau perkenalan. Dalam tahap ini kita mencoba untuk mengenal seseorang, mulai dari nama, alamat dan sebagainya. Termasuk mengetahui keluarganya, pekerjaannya, apa yang disukai dan tidak disukai dan juga hal-hal lain yang perlu ketehui tanpa melampaui batas-batas syar'i.

Tahap yang kedua yaitu tafahum atau memahami.
Masing-masing orang perlu waktu yang berbeda dalam proses mengenal atau ta'ruf hingga muncul persaan bisa memahami satu sama lain. Ada beberapa orang yang memerlukan waktu lama untuk bisa memahami bagaimana sahabatnya. Untuk bis memahami sahabat kita tentunya diperlukan interaksi yang intens antar satu sama lain. Dari seringnya bertemu atau berkomunikasi, memperdalam pengenalannya, lama-kelamaan akan timbul rasa saling memahami.

Begitulah sahabat,.
Mungkin perlu waktu yang tidak sebentar bagiku untuk memahami sahabatku, masih harus bayak belajar untuk menganali apa yang menjadi kebiasaannya, apa yang disukai dan tidak disukainya. Dan selama proses itu tidak ada yang bisa kulakukan selain selalu berkhusnudhon kepadanya dan juga berbaik sangka kepada Allah, bahwa Dia akan memberikan yang terbaik untuk kami semua, Dia-lah yang menguasai hati manusia, dan Dia Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Sekian dulu dariku sahabat, semoga Allah selalu memimpin langkahmu.

“Terus MERANGKAI KATA untuk menggapai ridha-Nya

Wassalamu'alaikum...

Minggu, 01 Mei 2011

JADILAH SAHABAT TERBAIK

“Ya Allah, ampuni hamba jika tidak bisa berlaku adil terhadap sahabat-sahabat hamba,
Ampuni hamba jika ada yang merasa terabaikandan tak terpedulikan.
Ampuni jika tak banyak waktu yang bisa kuberikan,
Jadikanlah keredhaan-Mu sebagai penguat ikatan.
Amiin yaa Rabbal ‘alamiin.
*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Assalamu’alaikum…
Sahabat MK, tentunya di dalam kehidupan kita yang amat singkat ini banyak hal yang kita alami. Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, pasti kita memerlukan teman, sahabat, keluarga maupun orang lain untuk membantu kita. Dari sinilah akan tercipta hubungan pertemanan atau persahabatan yang erat. Bagi mereka yang supel dan mudah bergaul tentunya akan banyak memiliki teman bahkan sahabat.

Dalam perjalanannya persahabatan yang erat akan menumbuhkan rasa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Bermula dari saling mengenal diri, memahami maka akan tumbuh rasa saling menyayangi dan mencintai. Seiring berjalannya waktu suatu hubungan persahabatan suatu ketika akan mengalami cobaan-cobaan, seperti misalnya ketika kita lebih condong kepada salah seorang sahabat terdekat, lebih banyak waktu yang kita habiskan bersamanya. Kedekatan yang semakin lama makin erat ini bisa menimbulkan adanya kecemburuan bagi sahabat yang lain. Kalau hal ini dibiarkan maka akan mengakibatkan renggangnya ukhuwah yang ada. Ukhuwah yang diharapkan membawa berkah malah berubah menjadi wahana prasangka. Kalau sudah begitu, rasanya pertemuan tak lagi menyejukan jiwa, nasehat tak lagi mampu membuat ukhuwah merekat karena hati telah terhalang oleh sakwa sangka.
Sebenarnya kecemburuan itu bisa dihindari atau dicegah jika diantara kita ada sikap saling mengerti dan memahami bahwa dalam persahabatan atau ukhuwah, kita harus memperlakukan sahabat kita dengan adil sesuai porsi dan posisinya. Namun di sisi lain kita juga harus paham bahwa kita tidak bisa memilih dengan siapa hati ini akan condong, ke sahabat mana hati ini terpaut lebih erat, karena di sini murni kuasa Ilahi. Allah-lah yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati.

Maka dari itu sahabat, dari pada kita larut dalam kecemburuan yang tidak membawa manfaat dan tidak sehat, alangkah baiknya kita berlomba-lomba untuk menjadi teman sejati bagi teman-teman kita dan berusaha menjadi sahabat yang terbaik bagi sahabat-sahabat kita, membina ukhuwah terindah bagi saudara-saudara kita. Semoga kelak Allah mengumpulkan kita ke dalam surga-Nya.
Amiin yaa Rabbal’alamiin..

“Terus MERANGKAI KATA untuk menggapai ridha-Nya.”

Wassalamu’alaikum…..

Senin, 19 Juli 2010

Sejenak merenung menyelami diri

Sejenak merenung menyelami diri
Mencoba bertanya pada hati nurani
Siapakah diri ini
Dari apakah kita ini
Layakkah berbangga diri

Teringat bahwa hati ini berlumur dosa
Masa muda berlalu begitu saja
Begitu banyak waktu terbuang sia-sia
Terlena dengan gemerlapnya dunia

Begitu jelas terbayang
Sosok seorang wanita yang amat ku sayang
Kulitnya mulai keriput termakan usia
Uban mulai menghiasi kepalanya

Ia tak lagi sekuat dulu
Segala pengorbanan ia lakukan untukku
Ia belai diriku dengan kasih sayang
Menghibur saat aku dalam kesedihan
Ibu….
Semua telah kau lakukan
Kau ajari aku tentang makna kehidupan
Darimu aku mengenal Rabb semesta Alam
Kau tanamkan iman sebagai landasan kehidupan

Ibu….
Terima kasih tak terhingga
Untuk setiap tetes keringat tanda pengorbanan
Untuk tiap tetes air mata kesedihan
Untuk tiap detik waktu yang engkau persembahkan
Untuk ku yang sangat kau sayang

Ibu….
Maafkan jika belum bisa memenuhi harapanmu
Maafkan bila sering menyakiti perasaanmu
Maafkan bila membuat hatimu luka
Lewat perbuatan dan kata-kata
Aku belum bisa menjadi yang kau harapkan
Belum bisa dibanggakan

Ya Rabb….
Begitu banyak dosa telah kulakukan
Perintah-Mu aku lalaikan
Larangan-Mu aku langgar

Ya Rabb….
Aku mencintai-Mu
Namun jarang mendekat kepada-Mu
Aku rindu Kepada-Mu
Namun tak cukup bekal untuk ku kembali menghadap-Mu

Ya Rabb….
Engkau Maha Pengampun
Maka ampunilah aku
Aku tahu ampunan-Mu lebih luas dari pada amarah-Mu
Ku pasrahkan segala urusanku kepada-Mu
Tunjukkanlah aku ke jalan-Mu yang lurus
Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Selasa, 13 Juli 2010

25 tahun usiaku

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Apa kabar sahabat, semoga selalu dalam limpahan rahmat Allah Yang Maha memberi rahmat. Maafkan jika lama tak menyapa antum sekalian. Semua karena iman yang berkurang hingga berpengaruh pada ukhuwah ku pada kalian. Semoga Allah senantiasa menjaga iman kita semua, sehingga ketika ia berkurang Allah segera memberikan teguran. Semoga dengan begitu iman selalu terpancar dari dalam dada yang nantinya akan menghangatkan ukhuwah yang ada diantara kita.

Sebuah puisi, semoga menjadi renungan buat ku pribadi dan mungkin juga buat antum sekalian;

25 tahun usiaku

Di keheningan malam aku sendiri
Ditemani gelap dan deras hujan yang membasahi bumi
Saat mereka terlelap dalam mimpi
Aku memilih tetap di sini

Mencoba merenung menyelami diri
Menelusup sampai ke relung hati
Pekatnya malam seakan turut menjadi saksi
Derasnya hujan seolah membasahi mata dan hati ini

Anganku melayang menembus gelapnya malam
Jiwaku terbang menerobos tebalnya awan
Teringat akan masa lalu yang telah lewat
Tersadar betapa diri ini masih jauh dari taat

25 tahun sudah aku hidup di bumi
Menikmati segala keindahannya
Melewati segala suka maupun duka
Tenggelam dalam dunianya yang fana

25 tahun aku berkelana
Begitu banyak khilaf dan dosa
Tidak sedikit waktu yang sia-sia
Terlena kinikmatan duniawi sementara

Aku masih di tempatku
Larut dalam sujud panjangku
Penuh harap dalam munajat
Beralaskan sajadah ma’rifat

Mencoba menghisab diri
Tanpa sadar air mata mengalir menjadi saksi
Betapa kotor dan hinanya diri ini
Alangkah keruhnya jiwa dan hati
Masih layakkah untuk mengabdi ?
Dalam rentang usia yang panjang
Tak ada yang bisa kubanggakan
Tak banyak kudapat sebagai bekalan
Untuk menghadap Rabb semesta alam

Ya Rabb….
Bilakah pandangan ini tunduk dalam tawadhu’
Bilakah pendengaran ini terarah hanya kepada-Mu
Bilakah raga ini pasrah dalam Mahabbah suci-Mu

Ya Rabb….
Dalam keheningan malam-Mu
Di atas kain cintaku
Aku memohon ampun atas segala dosa dan khilafku
25 tahun tak terasa usiaku
Sedikit sekali aku mengingat-Mu
Semakin dekat aku menuju-Mu
Namun tak banyak amal yang kubawa menghadap-Mu

Ya Rabb….
Ku pasrahkan sisa umurku kepada-Mu
Tunjukkanlah aku jalan lurus-Mu
Mudahkanlah aku untuk menuju-Mu
Peliharalah aku dalam taubat di jalan-Mu
Jadikanlah Khusnul khotimah di akhir hayatku
Amiin ya Robbal ‘alamiin…


Note:
Ku dedikasikan puisi diatas untuk saudara fillah-ku yang tengah berbahagia di usianya yang ke 25 tahun.

Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam berjuang di jalan-Nya. Di mudahkan segala urusannya, di kabulkan apa yang menjadi harapan dan permintaannya.

Semoga dengan bertambahnya usia, semakin bijak dalam menyikapi hidup, semakin taat kepada Allah, dan sukses dunia akhirat, amin.

^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Minggu, 23 Mei 2010

PERJALANAN SEORANG SAHABAT MENUJU ALLAH

Assalamu’alaikum….

Apa kabar sahabat? Sekian lama tak menyapa, semoga antum semua tetap dalam keimanan dan selalu diliputi rahmat cinta-Nya.

Sahabat, Sepenggal kisah untuk kita, yang kami tulis, terinpirasi dari seorang sahabat yang begitu luar biasa, yang mana kami belajar banyak darinya. Kita simak sama-sama ya !!!

PERJALANAN SEORANG SAHABAT MENUJU ALLAH

“Assalamu’alaikum…”. Terdengar ucapan salam dari arah belakangku. “Wa’alaikum salam warahmatullah”, jawabku seraya menoleh ke arah sumber suara. Ada sesosok ikhwan yang tak asing berjalan menghampiriku. Saat itu ba’da maghrib, waktu yang tak lama untuk sekedar basa-basi. Kemudian aku pamit pergi mendahuluinya, meski dalam hati menyesal, kenapa tidak mengobrol lebih lama.

Itulah awal pertemuanku dengan seseorang yang kini menjadi sahabat terbaikku. Dialah sahabat yang telah Allah kirimkan untuk membuka jalan bagiku dalam usaha menemukan sebuah komunitas yang bisa mengantarku menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Komunitas yang dipenuhi dengan orang-orang yang sholeh, bersemangat menuntut ilmu, dan mempunyai kesamaan visi dalam usaha berjuang menegakkan kalimah Ilahi.

Sebut saja namanya Mas Hanif. Nama lengkapnya Muhammad Hanif . Meski usianya dua tahun lebih muda dariku, namun dalam hal ilmu agama ia lebih faham dan lebih berpengalaman dalam da’wah. Hari-harinya dipenuhi dengan jadwal yang cukup padat. Selain mengajar di Salah satu SD Islam Terpadu di daerahnya, tepatnya di kota sentani Papua, ia juga disibukkan dengan mengisi kajian untuk para pemuda binaannya, dan masih banyak aktivitas lain yang tentunya tidak aku ketahui.

Walaupun kami belum sempat berkenalan, tapi aku tahu namanya dari salah seorang temanku yang telah mengenalnya lebih dulu. Sebenarnya aku sudah sering melihatnya shalat jama’ah di masjid, tapi aku ragu untuk menegur duluan dan hanya bisa mengamati dari kejauhan. “Wah… seperti inilah, gambaran orang sholeh yang cocok dijadikan teman”, pikirku dalam hati. Tetapi karena aku tipe orang yang kurang supel, akhirnya hanya bisa menunggu dan menunggu waktu yang kurasa tepat untuk lebih mengenalnya.

Singkat cerita, kami pun berkenalan. Mengetahui nama satu sama lain meski hanya sebentar karena dia sering tak punya banyak waktu karena harus kembali mengajar, atau entah karena apa yang aku kurang tahu.

Pada kesempatan lainnya, kebetulan ada kegiatan di tempatnya yang diadakan sebulan sekali yaitu acara tasqif. Tasqif adalah suatu kajian yang membahas tentang ilmu agama yang bertujuan menambah wawasan keilmuan, tentunya dalam hal agama. Alhamdulillah banyak yang hadir termasuk aku, tak hanya kalangan ikhwan (laki-laki) tetapi juga kalangan akhwat (perempuan) yang tentunya mereka semua aktif dalam pembinaan keislaman pekanan (halaqoh). Seusai acara itu, dikenalkanlah aku dan beberapa temanku yang lain dengan seorang ustadz yang sekarang menjadi pembimbingku dalam belajar agama islam yang insya Allah sampai kapan pun selagi Allah masih menunjukkan hidayah-Nya padaku.

Meskipun aku dan mas Hanif tidak berada dalam satu halaqoh, namun kami masih bisa saling bersilaturahmi. Tatkala aku sedang libur kerja dia sering mengajakku rihlah atau jalan-jalan menikmati indahnya panorama alam Papua yang sangat memanjakan mata. Sering kami menikmati indahnya danau yang dikelilingi oleh hijaunya pegunungan, melihat indahnya kota sentani dari puncak pegunungan, serta bermain dengan gemericik air sungai yang dingin menyejukkan. Subhanallah, begitu indah Allah menciptakan semuanya tanpa ada cacat sedikitpun dalam penciptaan-Nya di bumi Papua yang menurut perkiraan teman-temanku di Jakarta, Papua itu menyeramkan. Semua itu dikarenakan mereka hanya melihat penduduk pribumi Papua yang hanya memakai koteka. Ternyata mereka salah besar. Papua begitu indah dengan hijaunya hutan dan pegunungan serta luasnya perairan yang masih murni bak hamparan permadani.

Dalam pandanganku, mas Hanif orangnya ramah, enak diajak bertukar fikiran dan cukup terbuka. Walau agak banyak bicara, ada hikmah dalam setiap kata yang terangkai penuh makna, dan itu yang membuat aku betah bila sedang bersamanya. “Indikasi orang yang sholeh”, pikirku, insya Allah.

Satu hal yang membuatku salut padanya adalah perjuangannya dalam meraih dan mempertahankan ilmu agamanya ditengah ujian dan cobaan hidup yang melanda, mempertahankan cahaya iman yang bisa redup sewaktu-waktu dalam perjalanan hidupnya bila tidak di jaga dengan sepenuh hati, jiwa dan raga.

Betapa sejak kecil dia telah ditinggal oleh kedua orang tuanya merantau ke tanah seberang. Dia yang masih kecil tinggal bersama neneknya di sebuah desa di daerah Jawa Timur sana, sedangkan kedua orang tuanya berada di belahan timur Indonesia, Papua.

Sang nenek dengan penuh kasih sayang merawat dan mendidiknya, mengajarkan dasar-dasar pendidikan agama di samping pendidikan islam yang di dapatnya dari sekolah. Dari situlah mas Hanif kecil mengenal agama islam, agama yang penuh rahmat dan kasih sayang ini.

Belasan tahun beliau jauh dari orang tua, belasan tahun yang penuh dengan kerinduan akan belaian kasih sayang, dekapan hangat dari orang-orang terkasihnya. Hanya sang neneklah yang menjadi tempat pelabuhan hati, tempat berkeluh kesah serta menjadi sandarannya untuk meluapkan kerinduan.

Setelah sekian lama berpisah dengan ayah bundanya, akhirnya setelah mas Hanif kecil menyelesaikan sekolah dasarnya, maka ia diajak orang tuanya ke Papua tempat di mana mereka sekarang tinggal.

Sejak saat itulah ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Kemudian mas Hanif melanjutkan Sekolah Menengah Pertamanya di Papua.

Kini, hari-hari mas Hanif dilalui bersama orang tuanya. Semua berjalan baik tanpa ada suatu kendala. Namun entah kenapa suasana terasa datar-datar saja. Ia tidak begitu merasakan adanya kedekatan layaknya seorang anak dengan orang tua pada umumnya. Dia mencoba untuk menjaga hubungan baik dengan ayah bundanya, mencoba untuk lebih dekat lagi dengan keduanya, namun ia merasa sulit untuk melakukan itu. Kadang ia merasa iri melihat teman-temannya yang bisa begitu dekat dengan orang tuanya, bisa bermanja-manja dalam mengungkapkan rasa cinta mereka. Dia sedih, kenapa tidak bisa seperti mereka. Mungkin semua itu karena ia terlalu lama berpisah dengan kedua orang tuanya.

Ternyata kehidupan yang sekarang ia jalani tak seindah seperti di kampung halamannya dulu. Di tempat yang baru, ia seperti orang asing. Ia merasa sendiri dalam keramaian di tengah-tengah lingkungannya, jauh dari nuansa islami seperti yang ia rasakan di kehidupan sebelumnya, ketika tinggal bersama neneknya. Lebih-lebih lingkungan keluarga yang tidak mendukung untuk kehidupan agamanya. Ia pernah bercerita kalau kedua orang tuanya dan satu saudaranya berbeda keyakinan. Ya, mereka nonmuslim. Walau ada saudara perempuannya yang muslim tapi sudah berkeluarga dan tinggal bersama suami. Jadilah ia seorang diri berjuang mempertahankan keyakinannya, mempertahankan prinsip hidup yang paling mendasar. Mungkin ini pula yang menyebabkan ia kurang bisa dekat dengan ayah bunda sebagaimana mestinya.

Dia juga bercerita, betapa dalam perjalannya belajar agama banyak sekali halangan dan rintangan, baik dari keluarga maupun lingkungan bergaulnya sehari-hari. Namun ia juga menyadari semua karena pondasi agama yang mungkin belum begitu kokoh dari dalam dirinya, sehingga mudah terombang-ambing oleh badai cobaan yang menerpa. Dua tahun cukup membuat beliau dalam kebimbangan, hatinya masih labil dalam ketidakpastian dan sangat memerlukan bimbingan.

Dalam keterpurukan kehidupan ruhaninya, ternyata Allah masih menyayanginya. Allah masih berkenan menjaganya. Allah membuat hatinya cenderung mudah diajak dalam kebaikan dan enggan bila diajak kepada hal-hal yang menyimpang. Dalam masa kebimbanga dan pencarian jati dirinya, ada salah seorang teman sekolahnya waktu di SMA mengajaknya untuk mengikuti sebuah kelompok kajian (halaqoh). Awalnya, ia hanya ingin tahu saja apa isi dari pengajian di tempat temannya tersebut, namun seiring berjalannya waktu ia merasa nyaman dan bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan. Sejak saat itu dan seterusnya mas Hanif mengikuti pengajian bersama temannya tanpa henti. Dari situlah dia bertekad untuk berubah, merubah kehidupan ruhaninya menjadi lebih terarah sesuai fitrah sebagai seorang hamba yang taat kepada-Nya.

Melihat kondisi keluarganya yang “berbeda”, ia bertekad harus menemukan seseorang yang bisa dijadikan teladan dan bisa membimbing dirinya dalam usaha menemukan hidayah Allah, menuju kematangan spiritual, hingga akhirnya bertemulah ia dengan seorang ustadz yang sekarang menjadi Murabbinya. Baginya seorang Murabbi adalah orang yang special, karena Murabbi berperan sebagai orang tua, guru, pemimpin bahkan sahabat, sehingga ia jadikan Murabbi sebagai tempat untuk bertukar fikiran dan mencurahkan permasalahan yang ada, bahkan bisa mendapatkan solusi dari permasalahan yang sedang ia hadapi. Kedekatan yang tercipta karena kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka bertemu karena Allah, berpisah pun karena Allah. Ukhuwah islamiyah yang mengesampingkan asal-usul, ras dan golongan bahkan melampaui batas geografis sekalipun.

Salah satu hal yang menjadi impiannya saat ini ialah, ia ingin membimbing sang Bunda untuk kembali kepada islam, mengantarkan Ibundanya meniti kembali kepada agama yang penuh rahmat bagi semesta alam, kembali kepada Ilahi Rabbi.

-oo00oo-

Untuk mas Hanif,
Semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa memberikan pertolongannya untuk antum, memberi kesabaran dalam upaya membimbing Ayah bunda dan menjadi jalan hidayah bagi orang-orang tercinta. Semoga tetap istiqomah dalam berjuang, dan diberi kesabaran yang terbaik dalam menghadapi segala aral yang melintang.

Ana ucapkan terima kasih tak terhingga untuk ukhuwah yang indah ini. Syukron atas bimbingan dan segalanya. Semoga antum selalu dalam selimut rahmat cinta-Nya, di jauhkan dari segala macam keburukan, siang dan malam. Amin ya Rabbal ‘alamiin.
Jazakallahu khoiir.
ANA UKHIBBUKUM FILLAH.

Demikianlah sahabat, sepenggal kisah dari sahabat terbaikku dalam upayanya meniti jalan Ilahi, menggapai nur hidayah-Nya. Semoga bisa diambil ibrahnya untuk kita semua dan menambah semangat kita dalam belajar memperdalam agama ini dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari secara kaffah. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

^^Terus merangkai kata untuk menggapai ridha-Nya^^

Wassalamu’alaikum…

Note: Untuk kemaslahatan bersama, nama sahabat yang kami kisahkan diatas bukan nama yang sebenarnya, semoga tak mengurangi makna dan tujuannya.

Edit oleh Muhammad hanif